Google search engine
HomeEkbisPLTSa Benowo: Dari Tumpukan Sampah Menjadi Energi Bersih Penopang Listrik Jawa Timur

PLTSa Benowo: Dari Tumpukan Sampah Menjadi Energi Bersih Penopang Listrik Jawa Timur

SURABAYA-kanasembilan.com (23 Januari 2026)

Persoalan sampah perkotaan yang selama ini identik dengan masalah lingkungan kini mulai menemukan jawabannya.

Di Jawa Timur, tumpukan sampah tidak lagi semata dipandang sebagai beban kota, melainkan potensi energi bersih yang mampu menopang kebutuhan listrik masyarakat. Transformasi itu tergambar jelas melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo, Surabaya.

Untuk memperluas pemahaman publik atas transformasi tersebut, PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur menggelar kegiatan “Virtual Journey to Green Power: Menjelajah Energi Masa Depan”.

Melalui platform virtual, PLN mengajak para jurnalis melihat lebih dekat bagaimana sampah kota diolah menjadi sumber energi listrik ramah lingkungan yang telah beroperasi secara nyata.

Kegiatan ini bukan sekadar media gathering, melainkan bagian dari strategi PLN membangun kesadaran bersama tentang pentingnya transisi energi. Sampah, yang selama ini dianggap persoalan klasik kota besar, ditunjukkan sebagai solusi berkelanjutan yang memberikan manfaat ganda: mengurangi beban lingkungan sekaligus menghasilkan energi bersih.

General Manager PLN UID Jawa Timur, Ahmad Mustaqir menegaskan, Virtual Journey to Green Power merupakan wujud komitmen PLN dalam mendorong pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Jawa Timur.

“Melalui program ini, salah satu tujuan utama kami adalah mendorong percepatan pengembangan energi baru terbarukan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kami mengajak teman-teman media agar pemberitaan tentang EBT semakin masif dan dipahami secara utuh oleh masyarakat,” ujar Mustaqir, Kamis (15/1/2026).

Menurutnya, pendekatan virtual dipilih agar insan pers dapat memahami secara menyeluruh proses kerja pembangkit EBT tanpa harus datang langsung ke lokasi. “Melalui Virtual Journey to Green Power, jurnalis dapat melihat bagaimana pembangkit EBT beroperasi, mulai dari pengolahan energi hingga penyaluran ke sistem kelistrikan,” jelasnya.

PLN juga memanfaatkan teknologi virtual reality (VR) untuk memberikan pengalaman visual yang lebih komprehensif. Dengan teknologi ini, peserta dapat menyaksikan secara detail mekanisme kerja pembangkit EBT. “Dengan VR, informasi yang disampaikan ke publik menjadi lebih akurat, teknis, dan edukatif,” tambah Mustaqir.

Di tengah era digital, PLN UID Jawa Timur juga diperkuat oleh Unit Pelaksana Pengatur Distribusi (UP2D) yang memantau seluruh aktivitas gardu induk di Jawa Timur secara real time. Pengawasan mencakup jaringan tegangan menengah 20 kV, sehingga gangguan dapat segera terdeteksi dan ditangani untuk menjaga keandalan pasokan listrik.

Saat ini, total kapasitas pembangkit listrik di Jawa Timur mencapai 10.586 megawatt, dengan sekitar 3,5 persen berasal dari sumber EBT. “Porsi energi hijau ini akan terus kami tingkatkan sejalan dengan roadmap transisi energi nasional dan komitmen PLN menuju energi yang lebih bersih,” imbuhnya.

Dari Masalah Sampah ke Sumber Energi

Surabaya menjadi salah satu contoh nyata bagaimana persoalan sampah dapat dikelola menjadi sumber energi alternatif. Hampir delapan tahun beroperasi, PLTSa Benowo telah menyumbang 122,04 GWh energi bersih ke sistem kelistrikan Jawa Timur.

PLTSa Benowo mulai beroperasi pada 30 November 2015 di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo dengan luas area 37,4 hektare. Pada tahap awal, pembangkit ini menggunakan teknologi sanitary landfill berkapasitas 1,65 MW, yang memanfaatkan gas metana dari timbunan sampah.

Sebagai tindak lanjut Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 tentang percepatan pembangunan instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan, PLTSa Benowo kemudian dikembangkan ke tahap kedua. Pada 10 Maret 2021, pembangkit berkapasitas 9 MW dengan teknologi gasification (zero waste) resmi beroperasi.

“PLTSa Benowo merupakan wujud nyata kolaborasi PLN dengan Pemerintah Kota Surabaya dalam mendukung energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan. Setiap tahunnya, PLTSa ini berkontribusi sekitar 5,5 GWh dan 30 GWh energi bersih dari masing-masing unit pembangkit,” jelas Mustaqir.

Teknologi Zero Waste dan Integrasi Sistem

Teknologi sanitary landfill mengolah sampah dengan cara memadatkan dan menimbunnya untuk menghasilkan gas metana. Sementara teknologi gasification mengonversi sampah padat menjadi gas bahan bakar melalui proses termokimia dengan suplai udara terbatas dalam reaktor gasifier.

Menurut Lasiran, teknologi gasification memiliki keunggulan utama berupa konsep zero waste, di mana tidak ada residu sampah yang tersisa. “Kedua pembangkit sudah terkoneksi langsung dengan sistem 20 kV di Gardu Induk Altaprima. Artinya, listrik yang digunakan warga Surabaya telah dipasok dari energi ramah lingkungan,” ujarnya.

PLN juga terus memperluas kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk pemerataan akses listrik berbasis energi hijau. Salah satunya melalui rencana pembangunan 16 PLTS komunal berkapasitas total 975 kWp di Kepulauan Sumenep, yang berpotensi melistriki 8.434 pelanggan di pulau-pulau terluar.

Aman bagi Lingkungan dan Warga

Di tengah kekhawatiran publik terhadap dampak lingkungan PLTSa, Pemerintah Kota Surabaya memastikan operasional PLTSa Benowo berjalan aman. Uji kualitas udara oleh laboratorium terakreditasi menunjukkan emisi PLTSa berada jauh di bawah ambang batas baku mutu.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya Dedik Irianto menegaskan bahwa pengujian dilakukan sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat. “Kami memastikan PLTSa Benowo berjalan efisien dan aman bagi warga sekitar. Hasil pengujian membuktikan kualitas udara tetap bersih dan sehat,” ujarnya.

Dedik menjelaskan, pengujian ini melibatkan parameter debu partikulat PM2.5 di area sekitar cerobong dan permukiman, serta emisi dari cerobong PLTSa itu sendiri. Rangkuman dari pengujian tersebut, antara lain pengujian di titik buang aktif atau didekat cerobong (827 meter dari cerobong) sebesar 3,9 µg/Nm³ dan di titik buang tidak aktif (448 meter) sebesar 2,8 µg/Nm³.

Angka ini jauh di bawah baku mutu udara ambien yang ditetapkan, yaitu 55 µg/Nm³ melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 22 Tahun 2021. “Kemudian pengukuran di permukiman Jawar (1,2 km dari TPA Benowo) menunjukkan kadar PM2.5 sebesar 1,6 µg/Nm³. Ini membuktikan bahwa lingkungan permukiman tetap aman dari paparan emisi,” ungkap Dedik.

Selain itu, ujar Dedik, emisi yang dihasilkan dari tiga boiler PLTSa terpantau sangat rendah. Boiler 1 tercatat 2,0 mg/Nm³, boiler 2 sebesar 3,5 mg/Nm³, dan boiler 3 sebesar 2,5 mg/Nm³. Angka-angka ini jauh di bawah baku mutu yang ditetapkan, yaitu 120 mg/Nm³ sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PermenLHK) No. 15 Tahun 2019.

“Emisi dari LFG 1 sebesar 4,7 mg/Nm³ dan LFG 2 sebesar 1,4 mg/Nm³. Kedua hasil ini juga berada jauh di bawah baku mutu yang ditetapkan, yaitu 95 mg/Nm³ melalui PermenLHK No. 11 Tahun 2021,” imbuhnya.

Dedik menegaskan, bahwa pengujian ini adalah bukti komitmen Pemkot Surabaya dalam menjaga kualitas lingkungan sekaligus bentuk transparansi kepada masyarakat. PLTSa Benowo merupakan salah satu proyek pengolahan sampah menjadi energi pertama di Indonesia yang berhasil beroperasi secara konsisten.

Teknologi yang digunakan mampu mengubah limbah padat kota menjadi listrik tanpa menimbulkan pencemaran udara yang membahayakan. “Dengan hasil uji terbaru ini, kami berharap masyarakat dapat lebih tenang dan terus mendukung solusi energi berbasis lingkungan yang berkelanjutan,” harapnya.

Tonggak Energi Bersih Nasional

Diresmikan Presiden Joko Widodo pada 6 Mei 2021, PLTSa Benowo menjadi PLTSa pertama di Indonesia yang mengusung konsep zero waste. Dengan kapasitas total 12 MW dari pengolahan 1.000 ton sampah per hari, pembangkit ini menjual 9 MW listrik ke PLN, sementara sisanya digunakan untuk operasional dan cadangan.

Kerja sama antara PLN dan IPP PT Sumber Organik berlangsung hingga 2032, dengan harga beli listrik 13,35 sen dolar AS per kWh, sesuai Perpres Nomor 35 Tahun 2018. Dari daya tersebut, PLN mampu melistriki sekitar 5.885 rumah tangga di Surabaya dan sekitarnya.

Melalui PLTSa Benowo, PLN menegaskan komitmennya mendukung pergeseran bauran energi nasional dari fosil menuju energi ramah lingkungan sekaligus membuktikan bahwa sampah, bila dikelola dengan teknologi tepat, dapat menjadi aset strategis dalam menjawab tantangan energi masa depan. (za).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments