Google search engine
HomePendidikanProfesor ITS Gagas AI Adaptif untuk Masa Depan yang Dinamis

Profesor ITS Gagas AI Adaptif untuk Masa Depan yang Dinamis

Reporter: Asher Yedijah Hoesono
Surabaya, 17 Juni 2026

Pesatnya perubahan data, perilaku manusia hingga ancaman siber membuat sistem Artificial Intelligence atau akal imitasi (AI) dituntut untuk tidak lagi statis. Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Ir Ary Mazharuddin Shiddiqi SKom MCompSc PhD menggagas kecerdasan artifisial adaptif melalui bidang continual learning.

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul Kecerdasan Artifisial Adaptif sebagai Fondasi Sistem Cerdas Masa Depan, Ary menjelaskan bahwa AI perlu terus belajar dari data dan pengalaman baru. Menurutnya, sistem AI yang tidak mampu beradaptasi akan cepat tertinggal oleh perubahan. “AI akan menjadi obsolete (ketinggalan zaman, red) jika tidak beradaptasi,” terangnya.

Lelaki kelahiran Kediri tahun 1981 ini menuturkan bahwa continual learning mengadopsi kemampuan manusia untuk belajar secara berkelanjutan. Dengan konsep ini, lanjut Guru Besar ke-238 ITS tersebut, AI diharapkan mampu mempelajari pengetahuan baru tanpa melupakan pengetahuan lama.

Namun, Ary menyebutkan, pengembangan continual learning masih menghadapi tantangan catastrophic forgetting. Kondisi ini terjadi ketika model AI mempelajari hal baru, tetapi kehilangan kemampuan untuk mengenali pengetahuan lama. “Model AI bisa memahami hal-hal baru, tetapi melupakan hal-hal lama yang telah dipelajari,” jelas Kepala Departemen Teknik Informatika ITS tersebut.

Dalam pengembangan keilmuannya, Ary memaparkan tentang Adaptive Intelligence Framework for Distributed Systems. Kerangka ini terdiri dari lima tahapan, yakni observe, learn, remember, adapt, dan act, agar sistem mampu mengamati data baru, belajar, mengingat, beradaptasi, serta mengambil keputusan.

Melalui kerangka tersebut, Ary menyoroti tiga arah kebaruan keilmuan, yaitu adaptive cyber defense, adaptive AI infrastructure, dan adaptive critical infrastructure. Ketiganya mencakup deteksi intrusi, anomali jaringan, pengelolaan klaster AI, hingga strategi penempatan sensor pada infrastruktur kritis. “Saya ingin membuat sistem yang secara dinamis dapat mendistribusikan load berdasarkan availability dan trennya,” paparnya.

Penerapan gagasan tersebut terlihat melalui FusionNet-FR, arsitektur transformer DualNet yang menggabungkan frequency modeling dan relational learning untuk meningkatkan peramalan deret waktu jangka panjang. Ary juga memaparkan SPARC sebagai strategi penempatan sensor untuk mendeteksi risiko kontaminan pada jaringan distribusi air.

Pengembangan tersebut dilengkapi dengan DiLLeMa sebagai kerangka kerja untuk distributed large models dan CloudX-Lab sebagai laboratorium hidup untuk infrastruktur AI adaptif. CloudX-Lab mengintegrasikan GPU nodes, CPU nodes, dan edge nodes dalam satu platform dengan dukungan dynamic scheduling, load balancing, auto scaling, fault tolerance, dan resource efficiency.

Dalam konteks kebermanfaatan untuk bangsa, AI adaptif dinilai dapat mendukung ketahanan siber nasional, transformasi digital, kedaulatan teknologi AI, dan pengembangan sumber daya manusia unggul. Ary menilai Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga perlu mengembangkan teknologi sesuai dengan kebutuhan lokal.

Dari sisi etika, alumnus S1 Teknik Informatika ITS itu menegaskan bahwa AI merupakan alat bantu saja, bukan sebagai pengganti manusia. “AI dapat menjadi referensi, namun bukan semata-mata menggantikan kita dalam membangun pengetahuan,” tuturnya mengingatkan.

Menutup penjelasannya, Ary berharap riset continual learning dan AI adaptif dapat memberi dampak nyata bagi ITS dan Indonesia. “Saya berkomitmen untuk fokus pada riset continual learning agar bisa memberikan kebermanfaatan yang sebesar-besarnya untuk sivitas akademika ITS pada khususnya dan Indonesia pada umumnya,” pungkasnya optimistis.

Lebih lanjut, gagasan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Yakni pada poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (ash).

Reporter: Asher Yedijah Hoesono

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments