Oleh: Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Pengurus Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Pusat | Peneliti Ekonomi Syariah
🗓️ Sidoarjo, 15 Juni 2025
🟢 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saudaraku sebangsa,
Tahukah Anda bahwa Indonesia adalah produsen singkong ke-5 terbesar di dunia, namun para petaninya hidup dalam ketidakpastian dan kerugian terus-menerus?
📉 Harga singkong di sentra produksi seperti Lampung pernah jatuh di bawah Rp1.200/kg — sementara biaya produksinya berkisar Rp1.500–1.600/kg. Petani rugi, panen tidak terserap, dan pabrik lebih memilih singkong impor dari Thailand dan Vietnam.
🚨 Ini bukan sekadar soal fluktuasi pasar. Ini cermin dari ketimpangan sistemik dan kelalaian negara dalam menjaga martabat petani.
🔍 MASALAH UTAMANYA APA?
1️⃣ Singkong belum diakui sebagai komoditas strategis.
➡️ Tidak ada Harga Acuan Pembelian (HAP), tidak ada lembaga penyerap hasil panen.
2️⃣ Petani tidak punya posisi tawar.
➡️ Mereka hanya menjual ke tengkulak, tanpa kontrak, tanpa perlindungan, tanpa akses ke harga riil pabrik.
3️⃣ Industri nasional lebih suka impor.
➡️ Karena harga lebih murah dan pasokannya stabil, hasil produksi dalam negeri justru diabaikan.
4️⃣ Tidak ada roadmap industrialisasi singkong.
➡️ Padahal potensi singkong sangat besar: untuk pangan, energi, bahan kimia, bahkan ekspor bernilai tinggi
🧠 APA PENYEBABNYA?
🔎 Karena selama ini singkong hanya dianggap sebagai “makanan kelas bawah”. Padahal:
✅ Ia tahan kekeringan
✅ Tumbuh di tanah marginal
✅ Tak butuh pupuk mahal
✅ Bisa jadi bioetanol, mocaf, pupuk organik, bioplastik
✅ Bisa menopang sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan
✨ Singkong bukan simbol kemiskinan. Ia adalah simbol daya tahan dan adaptasi.
🛠️ APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?
🎯 1. Ubah status singkong jadi komoditas strategis nasional
➤ Tetapkan HAP dan buffer stock
➤ Masukkan dalam skema pangan nasional
🎯 2. Bangun klaster industri singkong di 10 provinsi utama
➤ Pabrik mocaf, bioetanol, gudang, drying center
🎯 3. Bangun sistem kontrak jangka panjang petani–industri
➤ Putus ketergantungan pada tengkulak
🎯 4. Dorong riset dan produk turunan bernilai tinggi
➤ Mocaf, edible film, biofoam, snack sehat
🎯 5. Digitalisasi sistem singkong nasional
➤ Aplikasi harga real-time
➤ Marketplace koperasi-pabrik
➤ Akses pembiayaan dan asuransi tani
📣 INDONESIA TIDAK KEKURANGAN TANAH, PETANI, ATAU IDE.
Yang kita butuhkan hanya satu: keberanian menyusun ulang prioritas nasional.
Negara-negara lain menjadikan singkong sebagai sumber energi dan ekspor unggulan. Kita justru masih terjebak dalam kebijakan yang membuat petani jadi korban dan nilai tambah lari ke luar negeri.
💬 Sudah saatnya kita berhenti menyebut singkong sebagai makanan darurat. Ia adalah “pangan strategis masa depan” jika negara hadir secara penuh.
📖 Baca artikel lengkapnya di sini:
👉 https://www.facebook.com/share/p/1J1d7jv8Ze/?mibextid=wwXIfr
📤 Sebarkan ke jaringan Anda. Bangkitkan kesadaran. Bangun keberpihakan. Mari bergerak bersama.
🟢 Jika Anda setuju, sampaikan. Jika Anda ragu, mari diskusikan. Jika Anda peduli, mari bergerak.
📌 Karena masa depan Indonesia bisa bertumpu dari akar yang selama ini kita abaikan: singkong.
🔚 Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


