SURABAYA-kanalsembilan.com
Oleh: Muhammad Hidayatullah – Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya adalah puncak pembuktian tauhid. Ujian mereka bukan hanya berat—tetapi melampaui logika manusia.
Meninggalkan keluarga di padang tandus. Melawan penguasa zalim. Bahkan menyembelih anak kandung. Tapi karena yakin ini perintah Allah, mereka menjalaninya. Bukan karena logika, tapi karena iman.
- Ibrahim sang Dai: Tegak di Hadapan Namrudz
Ibrahim bukan hanya seorang ayah, tapi juga seorang dai yang harus menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang dhalim. Ia berdakwah kepada Namrudz, raja yang mengaku sebagai tuhan. Ketika logika manusia bisa memilih aman, Ibrahim memilih taat kepada Allah.
قَالَ إِبْرَٰهِيمُ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأْتِى بِٱلشَّمْسِ مِنَ ٱلْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ ٱلْمَغْرِبِ ۚ فَبُهِتَ ٱلَّذِى كَفَرَ
“Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dari barat!’ Maka terdiamlah orang kafir itu.”
(QS. Al-Baqarah: 258)
Namrudz murka dan membakarnya. Tapi Allah berfirman:
يَـٰنَارُ كُونِى بَرْدًۭا وَسَلَـٰمًا عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ
“Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!”
(QS. Al-Anbiya: 69)
- Hajar: Keimanan Seorang Ibu dalam Sunyi
Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail kecil di lembah tanpa tanaman, tanpa sumber air, tanpa naungan. Tapi ketika Hajar tahu ini perintah Allah, ia yakin: “Allah tidak akan menelantarkan kami.”
Keyakinan ini menggerakkan kaki Hajar berlari antara Shafa dan Marwah. Hingga Allah pancarkan air Zamzam, sebagai simbol abadi dari keyakinan seorang ibu mukminah.
- Ismail: Ketaatan Anak kepada Perintah Allah
Ujian puncak datang saat Ibrahim diperintah menyembelih anaknya, Ismail. Tapi Ismail tidak menolak. Ia justru menguatkan sang ayah:
يَـٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. InsyaAllah aku termasuk orang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Dan Allah gantikan dengan sembelihan yang agung, menandai bahwa keikhlasan dan ketundukan total adalah inti dari penghambaan.
- Ujian Zaman Kini: Tauhid dalam Godaan Modern
Ujian Ibrahim dan keluarganya bukan sekadar sejarah, tapi cermin untuk zaman ini. Hari ini, ujian tauhid berubah bentuk:
- Sebagai ayah: lebih sibuk bekerja daripada mendidik anak.
- Sebagai ibu: lebih takut miskin daripada takut kehilangan iman anak.
- Sebagai anak: lebih taat pada tren dan medsos daripada nasihat orang tua.
- Sebagai dai: lebih khawatir kehilangan followers daripada kehilangan ridha Allah.
وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ
“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Ali Imran: 185)
- Reorientasi Hidup: Jangan Tukar Akhirat Demi Dunia
Hari ini, banyak yang menukar amal akhirat demi keuntungan duniawi. Banyak yang hidup demi gengsi, bukan demi ridha Ilahi. Banyak yang rela melanggar syariat hanya demi like, rating, atau cuan.
مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ
“Barangsiapa menginginkan kehidupan dunia (yang segera), Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami kehendaki…”
(QS. Al-Isra: 18)وَٱلْـَٔاخِرَةُ خَيْرٌۭ وَأَبْقَىٰٓ
“Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A’la: 17)
Jangan tukar surga dengan kenikmatan sesaat. Jangan korbankan ridha Allah demi pujian manusia.
Idul Adha, Bukan Hanya Tentang Hewan, Tapi Tentang Hati
Iduladha bukan semata menyembelih kambing atau sapi. Ia adalah ritual pembersihan jiwa. Ibrahim, Hajar, dan Ismail mengajarkan kita: Tauhid itu mengorbankan logika, hawa nafsu, bahkan ego pribadi—demi Allah.
Maka sembelihlah ambisi duniawimu, egomu, dan keraguanmu—sebelum engkau menyembelih hewan qurban.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb


