SERIAL REFLEKSI KEMERDEKAAN 2025 – EDISI 16 AGUSTUS
🔹 “Kemerdekaan Guru yang Terpasung Sistem”
✍️ Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
📍Sidoarjo, 16 Agustus 2025
⸻
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh
Sahabat yang saya muliakan,
Ketika bangsa ini merayakan hampir delapan dekade kemerdekaan, kita patut bertanya dengan jujur: sudahkah pendidikan kita merdeka? Sudahkah guru-guru kita benar-benar dimerdekakan dalam mengajar?
Hari ini jargon Merdeka Belajar begitu lantang dikumandangkan. Tetapi realitas di lapangan menyajikan potret yang jauh berbeda. Guru-guru kita masih terjebak dalam belenggu birokrasi yang kaku, dipaksa menekuni tumpukan laporan administratif ketimbang menghidupkan semangat murid-muridnya. Sistem yang_ dibangun terlalu sentralistik dan teknokratis, menjadikan guru sekadar pelengkap kebijakan, bukan subjek utama perubahan.
📊 Data terbaru dari PGRI tahun 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 70% waktu kerja guru tersedot untuk urusan administrasi, bukan untuk mendidik. Laporan Gallup Global Teacher Status Index 2022 menempatkan guru Indonesia pada posisi yang mengkhawatirkan: 44% di antaranya mengalami burnout, kehilangan energi emosional, dan menganggap profesi mereka semakin tak dihargai.
Dampaknya terasa luas:
• Semangat guru memudar, kreativitas mereka terkubur di balik laporan.
• Hubungan emosional guru–murid melemah, anak-anak kehilangan figur teladan yang hidup.
• Murid semakin bergantung pada layar digital ketimbang interaksi nyata.
• Sekolah berubah menjadi arena target, ranking, dan akreditasi, bukan lagi taman yang menumbuhkan insan merdeka.
• Tak sedikit guru hebat memilih berhenti mengajar karena merasa diperlakukan sekadar buruh intelektual.
💡 Semua ini bukan sekadar problem teknis, melainkan krisis filosofis. Kita telah mengabaikan ruh pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia. Padahal Ki Hadjar Dewantara sudah berpesan: “Pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.”
Lalu, apa yang harus dilakukan?
✅ Kurangi beban administratif dan wujudkan sistem pelaporan yang humanis serta berbasis kepercayaan.
✅ Hadirkan Asisten Digital Guru berbasis AI untuk membantu tugas teknis agar guru bisa fokus mendidik.
✅ Libatkan guru dalam perumusan kebijakan, bukan hanya sebagai objek pelaksanaan.
✅ Hidupkan komunitas belajar antar-guru yang memperkuat identitas, semangat, dan daya juang.
✅ Bangkitkan kembali madrasah ruhani, agar guru menjadi penuntun jiwa, bukan sekadar pengajar materi.
Lebih jauh, reformasi pendidikan harus dilakukan dari hati, bukan sekadar dari sistem. Kenaikan gaji guru misalnya, jangan hanya berdasarkan kelengkapan laporan, tetapi pada kualitas interaksi dan dedikasi mereka. Pendidikan karakter dan literasi spiritual harus dijadikan gerakan nasional, dipimpin langsung oleh para guru, didukung ormas Islam, pesantren, dan MUI, untuk melahirkan Kurikulum Ruhani Nasional.
🌺 Hadits Nabi ﷺ menegaskan:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya, serta seluruh makhluk di langit dan bumi—hingga semut dalam lubangnya dan ikan di laut—mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan bahwa martabat guru bukan diukur dari tumpukan laporan atau angka akreditasi, melainkan dari doa seluruh alam semesta atas kebaikan yang mereka ajarkan.
Sahabatku, bila guru tidak didengar, bangsa ini tidak akan pernah dewasa. Tetapi bila guru dimuliakan, maka Indonesia akan melahirkan generasi merdeka—yang cerdas, beradab, dan berdaulat.
⸻
🌸 Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh
📌 •Baca versi lengkap Bab I – Bab VII di link berikut:*
👉 [Facebook]: https://
www.facebook.com/share/p/1F1qPujcvD/
[Medium]: https://medium.com/@mangesti/serial-refleksi-kemerdekaan-2025-edisi-16-agustus-2025-kemerdekaan-guru-yang-terpasung-e672c5f17edd


