Oleh: Mangesti Waluyo Sedjati
Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah | Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Pengurus KPEU MUI Pusat
Apakah bangsa ini benar-benar merdeka secara ekonomi?
Atau kita justru sedang tersandera oleh utang luar negeri, dominasi asing di sektor strategis, dan penjajahan digital melalui data dan algoritma?
Banyak yang mengira pertumbuhan ekonomi 5% dan arus investasi asing adalah tanda keberhasilan. Tapi bila ditelisik lebih dalam, justru di situlah akar ketergantungan kita tumbuh.
• Utang luar negeri tembus Rp 6.480 triliun, bunga dibayar Rp 533 triliun setahun.
• Nikel dan SDA kita dikuasai perusahaan asing, nilai tambah dinikmati di luar negeri.
• Data digital dan transaksi rakyat dikendalikan server asing dan korporasi global.
Lalu, di manakah letak kedaulatan ekonomi yang dijanjikan oleh konstitusi?
Artikel ini membedah:
* Warisan kolonial dan kebijakan liberal yang mengikis kemandirian,
* Strategi tiga pilar menuju ekonomi mandiri: reindustrialisasi, digitalisasi berdaulat, dan pembiayaan syariah,
* Jalan keluar dari sistem ekonomi global yang semakin menjerat.
Jangan biarkan bangsa ini selamanya tergantung dan dikendalikan.
Baca lengkap artikelnya di:
“Ekonomi tanpa kedaulatan hanyalah panggung sandiwara: tampak berdaulat, tapi dikendalikan tangan-tangan tak kasat mata.”
Jika dirasa bermanfaat, mohon bantu sebar ke grup dan jejaring strategis.
Saatnya bangsa ini bangun dan mengambil kendali


