✍️ Oleh: Mangesti Waluyo Sedjati
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Sahabat yang dirahmati Allah,
Tahukah Anda bahwa gedung megah yang kita sebut “Rumah Rakyat” di Senayan kini makin terasa asing bagi rakyatnya sendiri?
Bukan sekadar gedung, DPR RI sejatinya adalah lambang demokrasi representatif. Namun, hari ini, kita menyaksikan jarak yang kian melebar antara rakyat dan wakilnya. Banyak kebijakan lahir tanpa partisipasi publik, bahkan sering justru menguntungkan oligarki dan elite pemodal.
Fakta-fakta mencengangkan:
• Survei LSI (2023): Hanya 26% rakyat percaya DPR mewakili aspirasi mereka.
• Transparency International (2023): DPR termasuk lembaga dengan persepsi korupsi tertinggi.
• Sebagian besar anggota DPR berasal dari elite politik & pengusaha besar, bukan dari rakyat biasa.
Apakah DPR masih benar-benar mewakili kita semua?
Artikel ini membongkar akar-akar krisis representasi kita, mulai dari:
• Oligarki dalam sistem kepartaian,
• Mahal dan transaksionalnya biaya politik,
• Legislasi pesanan yang menjual undang-undang kepada pemilik modal,
• Lemahnya akuntabilitas & keterputusan dengan dapil,
• Hingga solusi jangka panjang untuk mengembalikan rakyat ke panggung utama demokrasi.
Ingin tahu bagaimana caranya membalikkan keadaan?
Baca dan sebarkan tulisan ini sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar politik kita bersama:
LINK ARTIKEL SELENGKAPNYA
Catatan:
DPR tidak akan berubah sendiri.
Mereka hanya akan berubah jika rakyat bersatu, sadar, dan bergerak bersama.
Mari kita rebut kembali makna sejati Rumah Rakyat—dengan akal sehat, suara nurani, dan kesadaran kolektif.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
#RumahRakyatTanpaRakyat
#DemokrasiSubstantif
#RakyatBerdaulat


