Google search engine
HomeAgamaHukum Meratapi Mayit

Hukum Meratapi Mayit

๐‘ด๐’†๐’…๐’Š๐’‚ ๐‘ซ๐’‚๐’Œ๐’˜๐’‚๐’‰ ๐‘ด๐’–๐’”๐’‰๐’‚๐’Š๐’“๐’‚
https://whatsapp.com/channel/0029Vah9iFTLCoWstm2a7B2f

โœบ Diriwayatkan dari Ummu โ€˜Athiyyah radhiyallahu โ€˜anha, beliau berkata,

ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ุจูŽูŠู’ุนูŽุฉู ุฃูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ู†ูŽู†ููˆุญูŽ ุŒ ููŽู…ูŽุง ูˆูŽููŽุชู’ ู…ูู†ู‘ูŽุง ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉูŒ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ุฎูŽู…ู’ุณู ู†ูุณู’ูˆูŽุฉู: ุฃูู…ู‘ู ุณูู„ูŽูŠู’ู…ูุŒ ูˆูŽุฃูู…ู‘ู ุงู„ุนูŽู„ุงูŽุกูุŒ ูˆูŽุงุจู’ู†ูŽุฉู ุฃูŽุจููŠ ุณูŽุจู’ุฑูŽุฉูŽ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ู…ูุนูŽุงุฐูุŒ ูˆูŽุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุชูŽูŠู’ู†ู โ€“ ุฃูŽูˆู ุงุจู’ู†ูŽุฉู ุฃูŽุจููŠ ุณูŽุจู’ุฑูŽุฉูŽุŒ ูˆูŽุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ู…ูุนูŽุงุฐู ูˆูŽุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ุฃูุฎู’ุฑูŽู‰

โ€œNabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengambil sumpah setia dari kami ketika kami berbaiโ€™at, yaitu kami dilarang meratap. Dan tidak ada yang bisa menepatinya di antara kami, kecuali hanya lima perempuan saja, yaitu Ummu Sulaim; Ummul โ€˜Alaa; anak perempuan Abu Sabrah, yang merupakan istri dari Muโ€™adz; dan dua perempuan lainnya; atau [1] anak perempuan Abu Sabrah; istri Muโ€™adz; dan satu perempuan lainnya.โ€
๐Ÿ““ (HR. Bukhari no. 1306 dan Muslim no. 936)

๐Ÿ”น๏ธ Meratapi mayit, di antaranya dalam bentuk berteriak-teriak, menangis histeris karena kematiannya, adalah perbuatan yang terlarang. Perbuatan semacam ini sangat berat untuk ditinggalkan, kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah Taโ€™ala. Terutama sangat berat bagi wanita. Oleh karena itu, dari sejumlah shahabiyyah yang berjanji di hadapan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, hanya tersisa lima orang saja yang bisa melaksanakannya. Hal ini karena memang individu atau person sahabat Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam itu tidak terjaga (maksum) dari berbuat dosa. Meskipun apabila berbuat dosa, mereka adalah orang-orang yang dimudahkan untuk segera bertaubat.

โš ๏ธ Terdapat ancaman berupa hukuman khusus di akhirat bagi orang yang gemar meratapi mayit. Diriwayatkan dari Abu Malik Al-Asyโ€™ari radhiyallahu โ€˜anhu, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŒ ูููŠ ุฃูู…ู‘ูŽุชููŠ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู…ู’ุฑู ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉูุŒ ู„ูŽุง ูŠูŽุชู’ุฑููƒููˆู†ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ: ุงู„ู’ููŽุฎู’ุฑู ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุญู’ุณูŽุงุจูุŒ ูˆูŽุงู„ุทู‘ูŽุนู’ู†ู ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุณูŽุงุจูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุงุณู’ุชูุณู’ู‚ูŽุงุกู ุจูุงู„ู†ู‘ูุฌููˆู…ูุŒ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ููŠูŽุงุญูŽุฉู ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฆูุญูŽุฉู ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุชูุจู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ู…ูŽูˆู’ุชูู‡ูŽุงุŒ ุชูู‚ูŽุงู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุณูุฑู’ุจูŽุงู„ูŒ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุทูุฑูŽุงู†ูุŒ ูˆูŽุฏูุฑู’ุนูŒ ู…ูู†ู’ ุฌูŽุฑูŽุจู

โ€œAda empat perkara khas jahiliyah [2] yang masih melekat pada umatku dan mereka belum meninggalkannya: (1) membanggakan jasa (kelebihan atau kehebatan) nenek moyang; (2) mencela nasab (garis keturunan) [3]; (3) menisbatkan hujan disebabkan oleh bintang tertentu; dan (4) dan niyahah (meratapi mayit).โ€

Dan beliau bersabda, โ€œWanita yang meratapi mayit, jika dia belum bertaubat sebelum ajalnya tiba, maka pada hari kiamat dia akan dibangkitkan dengan memakai kain (baju) yang terbuat dari timah cair [4] dan memakai pakaian dari kudis.โ€
๐Ÿ““ (HR. Muslim no. 934)

๐Ÿ”œ Disebutkannya โ€œwanitaโ€ pada hadits di atas adalah karena mayoritas pelakunya adalah wanita. Sehingga jika laki-laki juga meratap dan belum bertaubat sampai meninggal dunia, dia pun berhak terkena ancaman hukuman sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas.

โ–ช๏ธŽ Perkara ini juga sangat mendapatkan perhatian dari para sahabat, sampai-sampai mereka pun mengingatkannya ketika mereka sakit parah. Abu Musa (โ€˜Abdullah bin Qais) radhiyallahu โ€˜anhu merasakan sakit hingga jatuh pingsan sementara kepalanya menyandar dalam pangkuan salah seorang istrinya. Istrinya pun berteriak histeris sementara dia (Abu Musa) tidak bisa mencegah perbuatan istrinya sedikit pun (karena pingsan, meskipun masih bisa mendengar suara ratapan istrinya, pent.).

โ–ช๏ธŽ Ketika sadar, maka Abu Musa radhiyallahu โ€˜anhu pun berkata,

ุฃูŽู†ูŽุง ุจูŽุฑููŠุกูŒ ู…ูู…ู‘ูŽุง ุจูŽุฑูุฆูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูŽุฑูุฆูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูู‚ูŽุฉูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุงู„ูู‚ูŽุฉูุŒ ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุงู‚ู‘ูŽุฉู

โ€œSaya berlepas diri dari tindakan yang mana Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berlepas diri darinya. Rasulullah berlepas diri dari wanita yang meratap (menangis histeris), yang memotong-motong (mencukur atau menggundul) rambut kepala [5], serta menyobek-nyobek baju.โ€
๐Ÿ““ (HR. Bukhari no. 1296 dan Muslim no. 104)

Selengkapnya: https://muslim.or.id/50884-hukum-meratapi-mayit.html

(gwa-mida-jatim).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments