Google search engine
HomeTausiyahImam Meringankan Shalat dan Khutbah Sebagai Bentuk Kasih Sayang

Imam Meringankan Shalat dan Khutbah Sebagai Bentuk Kasih Sayang

Fawaid Hadist #121 |

Fawaid Hadist #121 | Imam Meringankan Shalat dan Khutbah Sebagai Bentuk Kasih Sayang

Dari Abu Abdillah Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu ia berkata,

كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَوَاتِ، فَكَانَتْ صَلَاتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

“Aku pernah shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak shalat. Shalat baginda sedang dan khutbahnya juga sedang (tidak panjang dan juga tidak pendek).” (HR. Muslim, no. 866)

Faedah Hadist :
Hadist ini memberikan faedah – faedah berharga, di antaranya;

1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Imam meringankan shalat dan khutbah sebagai rahmat bagi kaum muslimin, karena dalam keadaan dan situasi semacam itu, di dalamnya ada orang yang sakit atau mereka yang punya kebutuhan dan kepentingan mendesak lainnya.

2. Rasul memberikan patokan, di antara ciri kefakihan agama seseorang itu dicerminkan dalam hadits ini, yaitu penyampaian khutbahnya tidak panjang dan juga tidak pendek tapi berada di antara keduanya (sedang-sedang saja).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ

Sesungguhnya shalat yang lama dan khutbah yang pendek merupakan pertanda keilmuan khatib [HR. Muslim no. 869]

Dari Jabir bin Samuroh As Suwaiy, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يُطِيلُ الْمَوْعِظَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِنَّمَا هُنَّ كَلِمَاتٌ يَسِيرَاتٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memberi nasehat ketika hari Jum’at tidak begitu panjang. Kalimat yang beliau sampaikan adalah kalimat yang singkat.” (HR. Abu Daud no. 1107)

Abu Wa’il berkata,

خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَبْلَغَ وَأَوْجَزَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ

‘Ammar (bin Yasir) pernah berkhutbah di hadapan kami lalu dia menyampaikan (isi khutbahnya) dengan singkat. Tatkala beliau turun (dari mimbar), kami mengatakan, “Wahai Abul Yaqzhon, sungguh engkau telah berkhutbah begitu singkat. Coba kalau engkau sedikit memperlama.”

Kemudian Ammar berkata,

إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَأَقْصِرُوا الْخُطْبَةَ فَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْراً

“Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan singkatnya khotbah merupakan tanda kefaqihan dirinya (paham akan agama). Maka perlamalah shalat dan buat singkatlah khutbah. Karena penjelasan itu bisa mensihir.” (HR. Muslim no. 869 dan Ahmad 4: 263)

Jabir bin Samuroh berkata,

كُنْتُ أُصَلِّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَتْ صَلاَتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا

“Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu shalat beliau bersifat pertengahan, begitu pula khutbahnya.” (HR. Muslim no. 866).

3. Pelajaran yang sangat penting bahwa hendaknya setiap muslim itu tidak membebani dirinya dengan menunaikan ibadah di luar kesanggupannya, tetapi mengamalkan sesuai kemampuannya.

4. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dianugerahi jawami’ul kalim, yaitu kalimatnya ringkas dan padat makna, tapi beliau tidak berlebih-lebihan dalam meringkas kata dan penyampaian kalimat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

فُضِّلْتُ عَلَى الأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ..

“Aku diberi kelebihan dibandingkan nabi-nabi sebelumku dengan 6 hal: aku diberi Jawami’ al-Kalim, aku ditolong dengan rasa takut yang disematkan di hati para musuh” (HR. Muslim 1195 & Turmudzi 1640).

بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ…

Aku diutus dengan membawa Jawami’ al-Kalim… (HR. Bukhari 2977).

5. Faedah berharga tentang sikap pertengahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kebanyakan perkara dan urusan, dimana dalam hal kebaikan berdampak pada langgengnya sebuah ketaatan dan sifat keberlanjutannya yang awet.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Referensi Utama: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin & Kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.

(gwa-majelis-ilmu-3).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments