Google search engine
HomeTausiyahManhaj Salah Dalam Tata Cara Mengkritik Penguasa

Manhaj Salah Dalam Tata Cara Mengkritik Penguasa

https://www.facebook.com/share/p/19xaPnTk7K/

Rasulullah ﷺ pernah mengatakan bahwa agama ini adalah nasehat, maka para sahabat radhiyallahu anhum bertanya, kepada siapa nasehat ini?, Nabi ﷺ menjawab :

«لله،وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسولِهِ، وَلأَئِمَّةِ المْسْلِمِينَ، وَعَامَّتِهِمُ»

“kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Pemimpin kaum Muslimin dan umumnya kaum muslimin”.
(HR. Muslim no 55).

Dalam hadits ini terkandung faedah bahwa diantara pokok agama ini adalah menasehati pemimpin kaum Muslimin agar mereka senantiasa berada di jalan yang lurus, memerintah dengan adil dan melaksanakan hukum-hukum Allah ﷻ.

Namun perlu ditegaskan bahwa menasehati pemimpin kaum muslimin, bukanlah dengan cara mengumbar aibnya dimuka umum, memprovokasi rakyat agar memberontak dan melakukan agitasi-agitas agar tidak menyukai pemimpinnya. Semua ini menyelisihi manhaj salaf.

Imam Ibnu Mandah dalam “al-Iman” (1/424) berkata :

وأما النصيحة لأئمة المسلمين فحب صلاحهم ورشدهم وعدلهم واجتماع الأمة عليهم وكراهية افتراق الأمة عليهم والتدين بطاعتهم في طاعة الله والبغض لمن أراد الخروج عليهم

“adapun nasehat kepada pemimpin (pemerintahan) kaum muslimin adalah dengan menyukai perbaikan untuk mereka, menunjuki mereka kepada keadilan, menyatukan umat dibawah kepemimpinannya, membenci perpecahan umat, berkeyakinan bahwa ketaatan kepada mereka berarti taat kepada Allah dan membenci orang yang ingin keluar dari pemerintahannya”.

Imam Nawawi dalam “Syarah Shahih Muslim” (2/38 juga berkata :

وَأَمَّا النَّصِيحَة لِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ فَمُعَاوَنَتهمْ عَلَى الْحَقّ ، وَطَاعَتُهُمْ فِيهِ ، وَأَمْرُهُمْ بِهِ ، وَتَنْبِيههمْ وَتَذْكِيرهمْ بِرِفْقٍ وَلُطْفٍ ، وَإِعْلَامهمْ بِمَا غَفَلُوا عَنْهُ وَلَمْ يَبْلُغهُمْ مِنْ حُقُوق الْمُسْلِمِينَ ، وَتَرْك الْخُرُوج عَلَيْهِمْ ، وَتَأَلُّف قُلُوب النَّاس لِطَاعَتِهِمْ

“adapun nasehat kepada pemimpin (pemerintahan) kaum muslimin adalah membantu mereka dalam kebaikan, menataati mereka dan perintahnya, menjelaskan dan mengingatkan mereka dengan lemah lembut, memberitahu mereka jika mereka lalai dan belum menyampaikan hak-hak kaum Muslimin, tidak memberontak mereka dan melembutkan hati manusia agar mentaati mereka”.

Syeikh bin Baz pernah ditanya dengan pertanyaan berikut :
Soal : apakah termasuk manhaj Salaf mengkritik pemimpin kaum Muslimin diatas mimbar? Dan bagaimana manhaj salaf dalam menasehati pemimpin?

Fadhilatus Syaikh rahimahullah menjawab :
“Bukanlah termasuk manhaj Salaf mengumbar aib pemimpin dan menyebutkannya diatas mimbar-mimbar, karena ini adalah perkara yang mudhorot yang tidak ada manfaatnya. Namun metode yang mutabaah menurut salaf adalah menasehati pemimpin secara langsung tatap muka (dengan “4 mata”), menulis nasehat kepadanya atau menghubungi ulama yang memiliki koneksi dengan mereka, sehingga tersampaikan kebaikan.”
(dinukil dari catatan kaki kitab as’ilah Manhajil Jadiidah dari kumpulan fatwa Syaikh al-Fauzan).

Imam Ibnu Utsaimin dalam “Syarah Riyadhus Sholihin” (2/395-cet. Daarul Wathoon, Riyaadh) berkata :

وعلى كل حال من النصيحة لأئمة المسلمين في العلم والدين أن لا يتتبع الإنسان عوراتهم، بل يلتمس العذر لهم

“kesimpulannya, termasuk nasehat kepada pemimpin kaum muslimin berkaitan dengan ilmu dan agama adalah agar manusia tidak mencari-cari aibnya, namun berusaha memberikan udzur kepada mereka”.

Dari penyatataan para Aimah diatas, jelaslah bagi kita bahwa metode yang benar yang diridhoi oleh Islam dalam memberikan nasehat kepada pemimpin kita yakni dengan nasehat yang lemah lembut, secara tersembunyi, tidak mengumbar aibnya dimuka umum, apalagi sampai melakukan provokasi agar kaum Muslimin mencabut ketaatan kepadanya.

Metode ini diambil dari saripati nubuwah yang suci dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Ibnu Abi Ashim :

جَلَدَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ صَاحِبَ دَارِيَا حِينَ فُتِحَتْ فَأَغْلَظَ لَهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ الْقَوْلَ حَتَّى غَضِبَ عِيَاضٌ ثُمَّ مَكَثَ لَيَالِيَ فَأَتَاهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ فَاعْتَذَرَ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ هِشَامٌ لِعِيَاضٍ أَلَمْ تَسْمَعْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا أَشَدَّهُمْ عَذَابًا فِي الدُّنْيَا لِلنَّاسِ فَقَالَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ يَا هِشَامُ بْنَ حَكِيمٍ قَدْ سَمِعْنَا مَا سَمِعْتَ وَرَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ أَوَلَمْ تَسْمَعْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ
وَإِنَّكَ يَا هِشَامُ لَأَنْتَ الْجَرِيءُ إِذْ تَجْتَرِئُ عَلَى سُلْطَانِ اللَّهِ فَهَلَّا خَشِيتَ أَنْ يَقْتُلَكَ السُّلْطَانُ فَتَكُونَ قَتِيلَ سُلْطَانِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“‘Iyaadh bin Ghonam Rodhiyallahu ‘anhu sedang mencambuk penduduk Daaroyaa ketika mereka ditaklukkan, maka Hisyaam bin Hakiim radhiyallahu ‘anhu marah kepada ‘Iyaadh radhiyallahu ‘anhu dan mengucapkan kata-kata yang membuat marah ‘Iyaadh, lalu setelah beberapa hari, Hisyaam bin Hakiim radhiyallahu ‘anhu mendatangi ‘Iyaadh radhiyallahu ‘anhu untuk meminta maaf, kemudian Hisyaam berkata kepada Iyaadh : “bukankah engkau pernah mendengar bahwa Nabi ﷺ bersabda :
“sesungguhnya manusia yang paling keras siksaan azabnya adalah mereka yang paling keras menyiksa manusia ketika di dunia”.

‘Iyaadh bin Ghonam berkata : “Yaa Hisyaam bin Hakiim, kami telah mendengar apa yang engkau dengar dan kami memandang sama seperti pandanganmu, bukankah engkau juga pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :
“barangsiapa yang ingin menasehati penguasanya tentang suatu perkara, maka janganlah diungkapkan secara terang-terangan, namun peganglah tangannya, lalu ajak menyendiri, jika ia menerima nasehat, maka itulah yang dikehendaki, namun jika ia enggan menerima nasehat, engkau telah menunaikan kewajibanmu”.

Anda wahai Hisyaam, telah melakukan suatu perbuatan yang jika anda lakukan dihadapan shulthon, aku khawatir shulthon tersebut akan membunuhmu, sehingga anda menjadi orang yang terbunuh oleh Sulthonnya Allah”.

Syaikh Syu’aib Arnauth dalam “Ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad” menukil ucapan al-‘Allâmah as-Sindiy yang berkata :

من أراد أن ينصح لسلطان”: أي نصيحة السلطان ينبغي أن تكونَ في السِّرِّ لا بين الخلق.

“maksud sabdanya : “barangsiapa yang ingin menasehati sulthon”, yaitu dalam menasehati shulthon (pemimpin) hendaknya secara tersembunyi, jangan diumbar didepan khalayak ramai”.

Wejangan Nabi ﷺ diatas, benar-benar dilakukan oleh para sahabat, misalnya apa yang dilakukan oleh Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Abu wail Syaqiiq, kata beliau :

(( قيل لأسامة : لو أتيت فلانًا – وفي رواية لمسلم : ألا تدخل على عثمان فتكلّمه؟ -، قال : إنكم لترون أني لا أكلمه إلا أُسمعكم !، إني أكلمه في السّر. – وفي رواية مسلم : والله لقد كلمته فيما بيني وبينه – دون أن أفتح بابًا لا أكون أوّل من فتحه ))

“dikatakan kepada Usamah : ‘seandainya engkau mendatangi fulan, dalam lafadz Muslim- kenapa engkau tidak mendatangi Utsman radhiyallahu ‘anhu lalu berbicara kepadanya?’.
Maka Usamah radhiyallahu ‘anhu berkata : “sesungguhnya kalian ingin agar apa yang aku bicarakan, kalian perlu mendengarnya!, aku telah berbicara kepada beliau secara sembunyi”.
Dalam lafadz Muslim : “demi Allah, aku telah berbicara kepada beliau secara tatap muka, tanpa perlu aku membuka pintu (fitnah), aku tidak ingin menjadi orang yang pertamakali membuka pintu (fitnah)”.

Al Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan hadits ini dalam Fathul Barinya :

( قال المهلّب : أرادوا من أسامة أن يكلم عثمان، وكان من خاصته، وممن يختلف عليه في شأن الوليد بن عقبة، لأنه كان ظهر عليه ريح نبيذ، وشهر أمره، وكان أخا عثمان لأمه، وكان يستعمله، فقال أسامة : (( قد كلمته سراً دون أن أفتح بابًا )) أي : باب الإنكار على الأئمة علانية، خشية أن تفترق الكلمة .
وقال عياض : مراد أسامة : أنه لا يفتح باب المجاهرة بالنكير على الإمام؛ لما يخشى من عاقبة ذلك، بل يتلطّف به، وينصحه سرًا، فذلك أجدر بالقبول ) .

“al-Muhallab berkata : “mereka menginginkan Usamah berbicara kepada Utsman radhiyallahu ‘anhu –Usamah memiliki hubungan khusus dengan Utsman- berkaitan perkara al-Waliid bin ‘Uqbah, karena jelas sekali bau anggur –dari mulutnya- dan perkaranya sudah masyhur, ia adalah saudara Utsman dari ibunya, ia diberikan jabatan dalam pemerintahan Ustman. Usamah berkata : “aku telah berbicara secara rahasia dengannya, tanpa perlu membuka pintu fitnah”. Yakni pintu PENGINGKARAN kepada pemimpin secara TERANG-TERANGAN, karena khawatir akan tercerai berai kalimat persatuan.

Qadhi Iyaadh berkata : “yang dimaksud Usamah radhiyallahu ‘anhu adalah beliau tidak ingin membuka pintu terang-terangan didalam mengingkari pemimpin, khawatir akibat tidak baiknya, namun beliau menempuh nasehat lemah lembut dan secara rahasia, karena ini lebih sesuai”.
(dinukil dari catatan kaki kitab as’ilah Manhajil Jadiidah dari kumpulan fatwa Syaikh al-Fauzan).

Dari penjelasan diatas sangat terang sekali bagaimana metode Islam dalam menasehati penguasa kaum Muslimin. Namun sangat disayangkan beberapa aktivis Islam keluar dari metode ini dalam berhubungan dengan penguasanya, sehingga terbukalah pintu-pintu fitnah yang terkadang sangat disayangkan sekali membuat tertetesnya darah seorang Muslim. Wallahul Musta’ân.

Abu Sa’id Neno Triyono at-Tighali

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments