Oleh : Adil Mastjik (Wk. Ketua Bidang Pendidikan dan Kader Ulama Dewan Dakwah Jatim)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dakwah merupakan kewajiban setiap Muslim untuk menyampaikan kebenaran dan mengajak kepada jalan Allah dengan cara yang bijaksana. Namun, dalam konteks modern, dakwah tidak hanya dilakukan di mimbar atau majelis ilmu. Justru, dakwah yang paling mendasar dan berdampak besar bermula dari lingkungan terkecil: keluarga. Dalam hal ini, konsep keluarga toyyibah—yakni keluarga yang baik, bersih, dan diridhai Allah—menjadi landasan penting dalam membentuk masyarakat Islami yang kokoh.
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ ١١٠
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik”. (QS. Ali Imran :110)
Di dalam ayat ini terkandung dua hal; Pertama, mulianya umat Islam adalah dengan dakwah. Kedua, tegak dan eksisnya umat Islam adalah dengan menjalankan konsep amar ma’ruf nahi munkar.
Apapun profesi dan pekerjaan seorang muslim, tugas dakwah tidak boleh dia tinggalkan. Setiap muslim berkewajiban untuk menyampaikan dakwah sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa dakwah adalah jalan hidup seorang mukmin yang senantiasa mewarnai setiap perilaku dan aktifitasnya.
قُلْ هَـٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّـهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّـهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS:Yusuf : 108)
Dalam ayat diatas, seorang mukmin mengikuti tuntunan Rasulullah atas dasar bashirah yaitu ilmu dan keyakinan. Ini artinya dakwah merupakan tuntutan iman, yang jika seorang mukmin meninggalkan kewajiban dakwah berarti ada masalah dengan keimanannya.
Tentang ayat ini Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya; Allah berkata kepada Rasulnya agar memberitahu umat manusia bahwa ini adalah jalannya, tempat berpijak dan sunnahnya, yaitu mendakwahkan tauhid bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan menyeru kepada Allah diatas ilmu dan keyakinan.
Makna Keluarga Toyyibah
Secara etimologis, kata toyyibah berasal dari bahasa Arab yang berarti “baik”, “bersih”, atau “suci”.
Menggunakan istilah keluarga toyyibah, bukan keluarga sakinah, karena keluarga toyyibah itu yang merupakan cikal bakal dari baldah toyyibah, ini tercermin dari doa Nabi Zakaria waktu beliau mengharapkan adanya keturunan untuk meneruskan tugasnya membina masyarakat yang baik, dalam surat Al Imron ayat 38
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗۚ قَالَ رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةًۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ ٣٨
Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya engkau maha mendengar doa.”
Kemudian dalam surat Saba’ ayat 15
كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗۗ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ ١٥
“Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) Tuhan Yang Maha Pengampun.”
Sebagai elemen dari kaidah toyyibah maka keluarga toyyibah mempunyai karakter dan ciri yang sama dengan baldah toyyibah, diantaranya martabat yang sama antara semua anggota keluarga khususnya antara suami istri, bapak ibu, lelaki perempuan.
Dalam konteks keluarga, istilah ini mengacu pada keluarga yang:
Membangun relasi atas dasar keimanan dan ketaqwaan,
Menjaga nilai-nilai moral dan spiritual
Menanamkan akhlak mulia dalam keseharian.
Menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup.
Keluarga toyyibah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan madrasah pertama bagi setiap individu. Dari sinilah nilai-nilai Islam ditanamkan sejak dini.
Keluarga sebagai Basis Dakwah
- Dakwah Internal: Pendidikan
dalam Rumah
Dakwah yang efektif dimulai dari dalam rumah. Seorang ayah dan ibu memiliki peran strategis dalam menanamkan tauhid, ibadah, dan akhlak kepada anak-anak mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam keluarga toyyibah, orang tua bukan hanya penanggung jawab ekonomi, tapi juga murobbi (pendidik) yang membimbing dengan kasih sayang dan teladan.
- Menjadi Teladan di Tengah Masyarakat
Keluarga yang harmonis, jujur, saling menghormati, dan menjalankan nilai-nilai Islam akan menjadi contoh nyata di tengah masyarakat. Dakwah bil hal (dengan perbuatan) seperti ini jauh lebih efektif daripada sekadar kata-kata.
- Melahirkan Generasi Da’i
Keluarga toyyibah akan mencetak generasi penerus yang bukan hanya cerdas intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga seperti ini cenderung memiliki kepedulian sosial dan semangat untuk menyebarkan kebaikan di masyarakat.
Ciri-ciri Keluarga Toyyibah dalam Perspektif Islam
Tegaknya shalat dalam rumah tangga. Shalat berjamaah, doa bersama, dan pembiasaan ibadah harian menciptakan suasana spiritual yang kuat.
Komunikasi yang baik dan Islami. Anggota keluarga saling menasihati dengan lemah lembut, bukan dengan amarah atau cacian.
Adanya tujuan hidup bersama menuju ridha Allah. Keluarga toyyibah menjadikan visi akhirat sebagai kompas dalam mengambil keputusan duniawi.
Pendidikan islam yang konsisten. Orang tua menyediakan waktu untuk membimbing anak, mengenalkan Al-Qur’an, dan menyisipkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Keluarga toyyibah bukanlah sesuatu yang terbentuk secara instan. Ia membutuhkan usaha sadar, kesabaran, dan komitmen dari setiap anggota keluarga. Namun, ketika nilai-nilai Islam benar-benar hidup di dalam keluarga, maka keluarga itu akan menjadi pusat dakwah yang efektif dan abadi.
Dengan membangun keluarga yang baik, kita tidak hanya menjaga keturunan, tetapi juga menanamkan benih dakwah yang akan terus tumbuh dan menyinari masyarakat. Keluarga toyyibah adalah fondasi peradaban Islam.
Rewwin 14 Shafar 1447 H / 8 Agustus 2025
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb


