Google search engine
HomeTausiyahPara Wanita Mukminah

Para Wanita Mukminah

💟 OneDayOneSirah
📙 Edisi 326 dari 732

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang masih memberi kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan. Semoga kita selalu dalam lindungan dan rahmat-Nya.

Kita lanjutkan kembali perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ dalam membangun peradaban Islam yang penuh hikmah dan kasih sayang.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

📝 Para Wanita Mukminah 📝

Setelah penyembelihan hewan qurban dan bercukur sebagai tanda selesainya ibadah di Hudaibiyah, Rasulullah ﷺ mendoakan para sahabat yang mencukur rambut mereka:

“Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang bercukur rambutnya.” (HR. Bukhari No. 1727, Muslim No. 1303)

Para sahabat yang hanya memangkas rambutnya bertanya:

“Wahai Rasulullah, bagaimana dengan kami yang hanya memangkas rambut?”

Namun, Rasulullah ﷺ tetap mengulangi doa yang sama:

“Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang mencukur rambutnya.”

Mereka bertanya lagi, hingga tiga kali, barulah Rasulullah ﷺ berkata:

“Dan juga bagi mereka yang memangkas rambutnya.”

Para ulama menjelaskan bahwa mencukur rambut lebih utama daripada memangkasnya, karena menunjukkan ketundukan total kepada Allah dan mendapatkan doa Rasulullah ﷺ sebanyak tiga kali lipat dibanding yang hanya memangkas rambut.

Penyesalan Umar bin Khattab

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu masih merasa gelisah setelah Perjanjian Hudaibiyah. Ia sempat menyatakan ketidakpuasannya kepada Rasulullah ﷺ, tetapi setelah Rasulullah ﷺ membacakan QS. Al-Fath: 1:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”
(QS. Al-Fath: 1)

Barulah Umar merasa tenang dan menyadari bahwa perjanjian ini adalah bagian dari strategi Allah untuk kemenangan Islam di masa depan.

Namun, ia tetap merasa bersalah karena sempat meragukan keputusan Rasulullah ﷺ. Ia berkata:

“Setelah itu, aku terus-menerus melakukan berbagai amal, sedekah, shaum, sholat, dan berusaha membebaskan diri dari apa yang telah kulakukan saat itu. Aku selalu dibayangi kelakuan itu. Aku selalu berharap semoga semua itu merupakan kebaikan bagiku.”
(HR. Bukhari No. 2731)

Penyesalan Umar ini menunjukkan ketakwaan dan kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ serta semangatnya untuk selalu memperbaiki diri.

Kedatangan Wanita-Wanita Mukminah ke Madinah

Tidak lama setelah kaum Muslimin kembali ke Madinah, datanglah serombongan wanita Mukmin yang melarikan diri dari Quraisy. Mereka ingin bergabung dengan kaum Muslimin dan hidup di bawah naungan Islam.

Namun, tak lama setelah kedatangan mereka, para wali mereka dari Quraisy datang untuk menuntut pemulangan mereka. Mereka berpegang pada Perjanjian Hudaibiyah, yang menyatakan bahwa siapa pun yang datang dari Mekkah ke Madinah harus dikembalikan kepada Quraisy.

Namun, Rasulullah ﷺ menolak tuntutan mereka.

Mengapa?

Karena dalam perjanjian tersebut hanya disebutkan pemulangan laki-laki, tidak ada klausul mengenai pemulangan perempuan.

Allah sendiri membenarkan keputusan Rasulullah ﷺ ini dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ ۖ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman sebagai muhajirin, maka ujilah (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Jika kamu telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir.”
(QS. Al-Mumtahanah: 10)

Allah memerintahkan agar para wanita yang hijrah itu diuji terlebih dahulu keimanannya. Jika mereka benar-benar beriman, maka mereka tidak boleh dikembalikan kepada Quraisy.

Bai’at Wanita Mukminah kepada Rasulullah ﷺ

Allah juga memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk membai’at wanita-wanita Mukminah yang datang ke Madinah. Mereka harus mengikrarkan janji setia kepada Islam dengan berjanji:
1. Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.
2. Tidak berzina.
3. Tidak membunuh anak-anak mereka.
4. Tidak melakukan kebohongan atau dusta.
5. Tidak mendurhakai Rasulullah ﷺ dalam perkara yang baik.

Bai’at ini juga disebutkan dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَىٰ أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Wahai Nabi! Apabila perempuan-perempuan Mukmin datang kepadamu untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Mumtahanah: 12)

Para wanita Mukmin itu pun menerima janji setia ini dengan penuh keimanan dan ketulusan.

Kesimpulan dan Hikmah
1. Para sahabat akhirnya memahami bahwa Perjanjian Hudaibiyah adalah kemenangan Islam yang nyata.
2. Umar bin Khattab menunjukkan ketakwaannya dengan menebus kesalahannya dengan amal shalih.
3. Para wanita yang hijrah dari Quraisy ke Madinah tidak dikembalikan karena tidak termasuk dalam perjanjian.
4. Allah memerintahkan bai’at wanita Mukminah, menunjukkan penghormatan Islam terhadap perempuan sebagai bagian dari umat yang beriman.
5. Allah selalu menolong orang-orang yang beriman dan memberikan mereka jalan keluar.

Apa yang Akan Terjadi pada Abu Jandal dan Kaum Mukminin Lainnya?

Meskipun para wanita Mukminah diterima di Madinah, bagaimana dengan kaum Mukmin laki-laki yang masih tertahan di Mekkah?

Bagaimana nasib Abu Jandal dan mereka yang senasib dengannya?

Kita lanjutkan kisah ini di edisi berikutnya, In syaa Allah. 😊

🎯 Sukseskan Gerakan:
1. Takbiratul Ihram Bersama Imam, Minimal Tidak Masbuq.
2. “Rebutlah” Shaf Pertama.

وَاللّٰهُ يَقُوْلُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

📝 Disusun oleh:
Alfaqir ilallah Mangesti Waluyo Sedjati
(Ketua KBIHU Baitul Izzah Sidoarjo, Hp/WA: 0811 254 005)

📚 Referensi Kitab
1. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam – Ibnu Hisyam
2. Ar-Rahiq Al-Makhtum – Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri
3. Fiqih Sirah Nabawiyah – Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi
4. Al-Bidayah wa An-Nihayah – Ibnu Katsir
5. Musnad Ahmad

💎 Semoga bermanfaat! Jika bermanfaat, silakan bagikan kepada yang lain.

Gabung group Siroh Nabawiyah WA: https://bit.ly/Siroh9
Telegram: https://t.me/BaitulIzzah_SirahNabawiyah

Klik untuk baca: https://www.facebook.com/share/1DMRZrmTid/?mibextid=wwXIfr

(gwa-siroh-nabawi).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments