Google search engine
HomeTausiyahREPOST: Keteladanan

REPOST: Keteladanan

Oleh: Ganjar Kurnia

Keteladanan itu sering disebut-sebut dalam pidato, seminar, spanduk, buku panduan, papan visi-misi, dan pidato sambutan. Tetapi begitu dicari dalam kehidupan sehari-hari, ia sering tidak ada di tempat.

Di sebuah negeri yang sangat mencintai kata “teladan”, setiap orang ingin menjadi contoh. Masalahnya, contoh yang diberikan sering kali bukan untuk ditiru, melainkan untuk direnungkan sambil mengelus dada. Katanya kita harus sederhana, tapi ada yang pesta ulang tahun, di hotel Bintang lima di Paris.

Ada yang bicara penghematan, tetapi rapatnya di hotel yang handuknya lebih lembut daripada nasib rakyat. Ada yang berpidato tentang disiplin, tetapi sering datang terlambat dengan alasan yang sangat filosofis: “macet”.

Keteladanan tidak perlu dipasang di “back drop”, sebab teladan yang terlalu besar di “backdrop” biasanya mengecil ketika turun ke kehidupan nyata. Dari jauh tampak gagah. Dari dekat tampak seperti foto yang terlalu banyak diedit.

Dalam teori sosial Albert Bandura, manusia belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari pengamatan: melihat, meniru, menyimpan, lalu mempraktikkan perilaku yang dianggap baik atau berhasil. Dengan kata lain, manusia bukan hanya murid dari kata-kata, tetapi juga murid dari pemandangan.

Anak belajar bukan hanya dari “jangan berbohong”, tetapi dari bagaimana orang dewasa menjawab telepon sambil berbisik, “Bilang saja Bapak tidak ada.” Pegawai belajar bukan hanya dari aturan integritas, tetapi dari cara pimpinan memperlakukan kuitansi, perjalanan dinas, dan meja kekuasaan.

Maka keteladanan adalah kurikulum yang tidak tertulis. Ia tidak masuk jadwal pelajaran, tetapi selalu hadir di kelas kehidupan. Guru bisa menjelaskan kejujuran selama dua jam, tetapi satu tindakan kecil bisa menjelaskan lebih panjang daripada semua slide PowerPoint.
Seorang pemimpin bisa menyusun kode etik setebal bantal, tetapi jika ia sendiri memperlakukan aturan seperti karet gelang, seluruh organisasi segera belajar olahraga baru: senam kelenturan moral.

Keteladanan bukan berarti manusia harus sempurna. Teladan adalah manusia yang masih mungkin salah, tetapi tidak merawat kesalahan sebagai kebiasaan. Ia bisa keliru, tetapi tidak menyewa ahli bahasa untuk menjelaskan bahwa keliru sebenarnya adalah inovasi.

Dalam kajian kepemimpinan, Kouzes dan Posner menyebut salah satu praktik penting pemimpin teladan sebagai model the way: pemimpin menunjukkan arah terutama melalui perilaku, bukan hanya seruan. Orang mengikuti bukan karena takut semata, tetapi karena melihat konsistensi antara ucapan dan tindakan. Tanpa konsistensi, kepemimpinan menjadi seperti pengeras suara rusak: bunyinya besar, suaranya “ngagorokgok”.

Keteladanan yang baik, bekerja diam-diam seperti akar. Tidak terlihat, tetapi menahan pohon agar tidak roboh ketika angin putting beliung datang membawa amplop, jabatan, pujian, jam mahal dan godaan yang memakai parfum dari Paris.

Dalam psikologi moral, Linda Zagzebski membahas pentingnya “moral exemplars”, yaitu pribadi-pribadi yang menjadi rujukan konkret bagi gagasan tentang kebaikan. Karena itu, keteladanan tidak perlu selalu memakai jubah agung. Kadang ia memakai baju biasa, duduk di warung kopi, membayar sendiri, tidak minta dilayani berlebihan, dan pulang tanpa merasa perlu disebut rendah hati. Sebab rendah hati yang diumumkan terlalu keras kadang berubah menjadi kesombongan yang sedang memakai peci.

Di ujung semua itu, keteladanan bukan soal menjadi orang paling terang, tapi hanya soal menjadi lilin kecil yang tidak ikut memaki gelap sambil pura-pura padam. Mudah-mudahan saya juga bisa seperti itu. (za).

(gwa-kb-pii-jatim)
150726

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments