Catatan Agus M Maksum
Kebijakan tarif 19% Donald Trump bukan sekadar angka. Bagi publik awam, itu sekilas terlihat seperti kebijakan biasa—angka yang diberlakukan merata untuk produk dari Asia Tenggara. Tapi bagi mereka yang tahu jalan tikus dunia dagang dan geopolitik, angka itu seperti pisau bedah: memisahkan jaringan lama dari struktur ekonomi yang sedang dibangun kembali.
Di permukaan, publik gaduh. “Indonesia kok ikut-ikutan dapat 19% juga? Artinya kita tidak spesial dong!” Tapi pertanyaannya: memang dari dulu kita spesial bagi siapa?
Yang menjadi menarik bukan angka 19-nya. Tetapi dampaknya. Karena seperti biasa, ada pihak yang terdampak positif, dan ada yang kehilangan panggung. Dan di sinilah letak cerita sesungguhnya: oligarki lokal menangis diam-diam.
Siapa yang Menangis?
Tangis ini bukan milik rakyat. Bukan pula pengusaha kecil. Yang diam-diam meradang adalah segelintir elite bisnis—mereka yang selama ini menjadi tuan di negeri sendiri. Mereka bukan petani, tapi punya ribuan hektar lahan gandum dan kedelai di luar negeri. Mereka bukan produsen kecil, tapi menguasai jalur distribusi dari pelabuhan hingga ke gerobak tahu bulat.
Mereka adalah pemilik kebun gandum di Kansas, pemilik kapal muatan jagung dari Argentina, pemilik saham mayoritas di perusahaan penggiling tepung terbesar di Indonesia, yang juga punya saham di industri data center dan penyimpanan cloud nasional. Beberapa bahkan terafiliasi ke grup media besar dan kelompok usaha terintegrasi dari hulu ke hilir.
Dalam sistem ini, rakyat Indonesia tidak pernah benar-benar membeli dari petani luar negeri.
Rakyat Indonesia membeli dari para perantara superkaya—yang kebunnya ada di luar, dan dompetnya menampung untung dari hasil selisih harga global dan kuota impor.
Mengapa Mereka Menangis?
Karena dengan satu strategi negosiasi, Prabowo menggeser sistem tersebut.
Bukan frontal. Tapi perlahan, rapi, dan terencana. Ia bukan memotong pohon besar, tapi mencabut akar akarnya.
Melalui kesepakatan dagang dengan Trump, Indonesia mendapatkan tarif ekspor 19% ke AS.
Bagi eksportir di sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan pakaian jadi, ini berkah.
Bagi pabrik-pabrik di China, ini musibah.
Tarif mereka melonjak ke 55%.
Investor mulai berpikir ulang.
Dan pelan-pelan… mulai melirik ke Indonesia.
Lalu, siapa yang panik?
Mereka yang pabriknya selama ini beroperasi di Vietnam dan Guangzhou.
Mereka yang nyaman mendapat laba dari struktur global yang mapan.
Mereka yang tidak ingin pabrik asing pindah ke Indonesia karena akan merusak “pasar tenang” yang sudah mereka kuasai.
Mereka menangis, karena tiba-tiba, rakyat Indonesia menjadi lebih menarik bagi investor asing dibanding mereka.
“Siapa” Itu Siapa?
Tidak perlu kita sebut satu persatu.
Tapi mari buka sebagian tabirnya.
Apakah Anda tahu siapa yang memonopoli impor gandum ke Indonesia?
Apakah Anda tahu siapa yang punya pabrik mie instan raksasa, tapi juga menjadi pembeli gandum terbesar dari kebun yang juga dia miliki?
Apakah Anda tahu siapa yang duduk di pertemuan BOD (Board of Directors) yang disebut dalam podcast investigasi—yang isi notulensinya menyebut nama Prabowo dengan nada sinis, sebab bisnis mereka terganggu karena Amerika tak lagi membeli dari mereka?
Apakah Anda tahu siapa yang menyuplai kedelai ke seluruh pengrajin tahu dan tempe di Indonesia, tapi menanamnya bukan di Jawa atau Sulawesi—melainkan di Iowa dan Nebraska?
Jika Anda tahu, maka Anda tahu siapa yang sedang menggigit bibir dalam diam.
Ketika Strategi Mengguncang Kekuasaan
Trump main tarif.
Itu permukaan.
Tapi Prabowo main strategi.
Dan strategi bukan hanya soal angka.
Ia soal membaca ulang peta kekuasaan.
Selama ini, para oligarki membangun imperium di atas dua hal:
Kontrol bahan pangan dan kontrol data.
Tarif 19% memukul pabrik mereka di luar negeri.
Kebijakan penyimpanan data lokal memukul bisnis cloud dan data center mereka.
Dan langkah kecil seperti membuka peluang relokasi pabrik dari China ke Indonesia…
adalah palu terakhir ke menara gading yang mereka bangun.
Maka, mereka marah.
Mereka menyebut kesepakatan ini sebagai “penjajahan”.
Padahal…
merekalah yang selama ini menjajah rakyat—dengan harga tepung, mie, dan kedelai yang mereka atur dari ruang ber-AC.
Penutup: Siapa yang Sebenarnya Terjepit?
Bukan rakyat.
Bukan petani.
Bukan tukang tempe.
Bukan nelayan.
Yang terjepit adalah mereka yang selama ini menangguk untung di dua sisi:
Impor bahan pangan dan kontrol distribusi.
Sekarang, rantai itu mulai dipotong.
Dengan cara yang tidak terlihat.
Tapi terasa.
Trump mungkin mengira dia sedang menghukum Asia.
Tapi Prabowo melihat celah di balik tarif.
Dan dari celah itu, mengalir strategi.
Kini, kita tahu siapa yang benar-benar kalah:
Yang tidak siap berkompetisi dalam pasar yang adil.
Dan mereka… menangis bukan karena cinta tanah air.
Tapi karena takut kehilangan kuasa atas perut rakyat.
Dan data kita.
Catatan ini ditulis sambil membayangkan,
bagaimana mereka—yang dulu merasa tak tersentuh—
sekarang sedang menyusun strategi baru… atau sekadar menyalahkan angin yang berubah arah.


