Google search engine
HomeGaya HidupBoleh jadi benar wacana yang beredar bahwa orbit seni rupa Indonesia saat...

Boleh jadi benar wacana yang beredar bahwa orbit seni rupa Indonesia saat ini berkutat di empat wilayah : Jogjakarta, Bandung, Bali, dan Jakarta.

Surabaya sebagai kota terbesar nomor 2 di Tanah Air dengan jumlah penduduk 3.010.000 jiwa, nyaris masuk ke Empat Besar. Dan semoga nanti tak ada lagi sebutan itu, melainkan sudah terkonversi menjadi “entitas” baru : Lima Besar.

Apalagi jika mengingat maraknya event pameran seni rupa (baca : lukisan) yang dalam 10 tahun terakhir terselenggara di banyak spot di Surabaya : Galeri DKS, Galeri Prabangkara, House of Sampoerna, Orasis Art Gallery, Galeri Merah Putih, Gedung Khrisna Mustajab “situs” Akademi Seni Rupa Surabaya, Galeri Rakuti, Art Lounge, di beberapa hotel, serta sejumlah lokasi lainnya.

Dan yang tak kalah penting adalah kehadiran Pasar Seni Lukis Indonesia yang dirintis dan digerakkan secara rutin oleh M. Anis dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini.

Selain itu silakan dicatat “pengaruh” kota Sidoarjo dan Batu, dimana pada akhirnya mengindikasikan bahwa Surabaya, Sidoarjo, Batu : tiada hari tanpa opening pameran lukisan. Belum lagi eksistensi “Komunitas Pasuruan” yang dimotori pelukis Wahyu Nugroho.

Kenapa ditulis perkara Empat Besar yang nantinya –mudah-mudahan– menjadi Lima Besar ?

Hal ini setelah mengamati “peta alokasi” peserta ARTSUBS 2025 yang saat ini event-nya tengah berlangsung di Kompleks Balai Pemuda, Surabaya — 2 Agustus – 7 September 2025.

Event akbar yang mengambil tema Material Ways ini diikuti 141 perupa.

Berdasarkan urutan banyaknya jumlah peserta : Jogjakarta 66, Bandung 21, Bali 12, dan Jakarta 7.

Berapa dari Surabaya? Ada 6 peserta. Disusul : Malang 3 dan Sidoarjo 2.

Sementara masing-masing 1 (satu) peserta berasal dari : Tuban, Malang/Jogjakarta, Tulung Agung, Kediri, Banyuwangi, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, Cirebon, Cianjur, Surakarta, Klaten, Gunung Kidul, Padang, Jember/Pasuruan, Bali/Kanada, Jakarta/Kuala Lumpur.

Sedangkan peserta dari luar negeri : Australia 3, Singapura 1, Amerika Serikat 1, Jerman 1, Belanda/Jerman 1.

Tentu indikasi berkaitan “peta alokasi” ini butuh penelitian lebih dalam untuk memastikan perkara Empat Besar itu. Ini sekadar hipotesa. Lebih-lebih jika hendak “mendalilkan” bahwa Surabaya nantinya akan masuk ke “entitas” baru : Lima Besar.

Yang jelas Jogjakarta mutlak “meraih kemenangan” sebagai peserta terbanyak pada ARTSUBS 2025, mencatat disparitas mencolok dibanding peserta dari Bandung, Bali, dan Jakarta.

Kenapa Jogjakarta bisa demikian? Mungkin disebabkan kehadiran perguruan tinggi seni rupa tertua di Indonesia, yaitu ASRI pada 15 Januari 1950, diresmikan oleh Menteri PP dan K: S. Mangunsarkoro, di Bangsal Kepatihan.

Ditambah
pengaruh dua kraton, boleh jadi memberikan vibes bagi tumbuh suburnya seni budaya di kota ini.

Upaya kritikus seni rupa di Jogjakarta yaitu Kusnadi (pada awal-awal), Suwarno Wisetrotomo, Dwi Maryanto, Wahyudin, Hendro Wiyanto, Mikke Susanto, Sanjaya Kuss Indarto untuk mengontrol dan mengawal para perupa, tak boleh diabaikan.

Belum lagi kalau bicara soal pengaruh seniman-seniman besar Indonesia yang tumbuh dan berkembang di Jogjakarta, seperti :

Affandi, Hendra Gunawan, Trubus, Widayat, Djoko Pekik, Bagong Kussudiardjo, Amri Yahya, Tino Sidin, Nasjah Djamin, Heri Dono, Lucia Hartini, Entang Wiharso, Nasirun, Ivan Sagito, dan lain-lain.

Rendra, Kirdjomulyo, Mohammad Diponegoro, Pedro Sudjono, Azwar AN, Butet Kertarajasa, Didik Nini Towok, dan masih beberapa lagi.

Juga :

Romo Mangun, Ashadi Siregar, Umbu Landu Paranggi, Emha Ainun Najib, Linus Suryadi Agustinus, Ragil Suwarno Pragolapati, Sindhunata, juga masih ada lainnya.

Geronimo, Ebiet G. Ade, Djaduk Ferianto, KLA Project, Sheila on 7, Soimah Pancawati, dan masih sekian sosok lagi.

Hal di atas menunjukkan betapa Jogjakarta menyimpan potensi luar biasa, dimana seniman di Jogjakarta secara adesif saling mengikat kuat. Secara langsung maupun tidak langsung, saling pengaruh mempengaruhi dalam ranah memacu kreativitas.

Ada lagi pengaruh besar bagi potensi seniman-seniman Jogjakarta, yakni hadirnya karya seni arsitektur bercitra seni agung, yakni dua candi besar — yang masuk wilayah Jogjakarta: Candi Prambanan. Dan yang dekat dengan kota yang pernah jadi Ibukota RI itu : Candi Borobudur.

Oleh sebab itu tidak mengherankan jika pada tahun 1950-an hingga 1970-an Jogjakarta melekat dengan sebutan Kota Pelajar, kini “terkonversi” menjadi : Kota Budaya.

Dengan kehadiran ARTSUBS di Surabaya yang dikuratori Asmudjo J. Irianto dan Nirwan Dewanto serta digerakkan oleh Rambat dan kawan-kawan untuk yang kedua kali (tahun lalu berlangsung di Pos Bloc), tentu saja harapan banyak warga pecinta seni di kota ini : mudah-mudahan bisa berlangsung langgeng.

Di sisi lain, mau tidak mau, hal ini akan memicu para seniman Jawa Timur untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas. Sebab, ada pembanding yang InsyaAllah tak bisa dipandang enteng.

Pernyataan Kehinde Wiley perupa kulit hitam Amerika Serikat yang karya-karyanya mentransformasikan elemen klasik dengan kontemporer, menarik jika dihubungkan dengan alinea di atas : seni adalah tentang mengubah apa yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari dan mewakilinya sedemikian rupa sehingga memberi kita harapan.

Amang Mawardi.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments