Google search engine
HomeGaya Hidup"Gowok: Kamasutra Jawa" Angkat Tradisi Seksualitas Jawa

“Gowok: Kamasutra Jawa” Angkat Tradisi Seksualitas Jawa

SURABAYA-kanalsembilan.com (29/5/2025)

Sutradara kenamaan Hanung Bramantyo kembali dengan film kontroversial namun sarat makna berjudul “Gowok: Kamasutra Jawa”. Mengangkat tradisi kuno gowok dari budaya Jawa — seni memuaskan pasangan secara spiritual dan fisik yang telah ada sejak abad ke-15 — film ini menawarkan sudut pandang baru tentang seksualitas, perempuan, dan warisan budaya.

Dengan durasi 124 menit, film ini diproduksi oleh Raam Punjabi melalui MVP Pictures dan Dapur Films. Sebelum rilis nasional, film ini sudah mencuri perhatian di ajang International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2025.

Cerita & Tokoh Utama

Kisah berpusat pada Nyai Santi (diperankan oleh Lola Amaria), seorang gowok legendaris yang melatih Ratri — diperankan oleh Alika Jantinia (versi muda) dan Raihaanun (versi dewasa) — untuk meneruskan tradisi tersebut.

Film ini bukan hanya soal erotika budaya, tetapi juga kritik sosial terhadap norma patriarki, serta upaya membuka ruang diskusi tentang pendidikan seksual dan peran perempuan dalam budaya Jawa.

Proses Syuting & Tantangan Pemeran

Dalam sesi special screening di TP I, para pemeran berbagi cerita di balik layar:

Alika Jantinia menyebut bahwa tradisi gowok dulunya merupakan bagian penting dari masyarakat Jawa. Beberapa mantra dalam film ini telah disesuaikan agar tidak menimbulkan kontroversi.

Nayla Purnama, yang berperan sebagai Sri, mengaku tantangan terbesarnya adalah mempelajari bahasa Jawa Ngapak Banyumasan. Banyak dialog dalam film menggunakan bahasa daerah tersebut untuk menjaga keaslian latar budaya.

Jadwal Tayang & Dua Versi Film

Film “Gowok: Kamasutra Jawa” dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 5 Juni 2025. Uniknya, film ini tersedia dalam dua versi: 17+ dan 21+.
Versi 17+ dibuat agar film bisa menjangkau penonton lebih luas, terutama karena keterbatasan jam tayang versi 21+.

“Sebenarnya ingin versi 21+ saja, tapi karena keterbatasan jam tayang, dibuat versi 17+ supaya bisa ditonton siang hari,” jelas Alika.

Pesan & Makna

Lebih dari sekadar drama, film ini membuka ruang refleksi tentang:

Seksualitas dan pendidikan seksual perempuan

Nilai-nilai patriarki dan budaya

Warisan tradisi yang kompleks dalam masyarakat modern

Hanung Bramantyo menyajikan narasi yang kuat, puitis, dan kritis — mengajak penonton untuk melihat budaya Jawa melalui lensa baru yang jujur dan terbuka.

Siap-siap, film ini bisa jadi salah satu karya paling berani dan penting tahun ini. Buruan nonton film ini dibioskop kesayangan anda. (zainuddin).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments