Dikisahkan setelah berbulan-bulan hidup dalam ketakutan akibat serangan pasukan Tatar, rakyat Damaskus akhirnya bisa bernapas lega. Pasukan Tatar berhasil dipukul mundur oleh Sultan ad-Dahir Baibars. Damaskus pun mulai pulih.
Namun, di tengah pemulihan itu, muncul kebijakan baru yang memicu ketegangan: Sultan menunjuk seseorang dari kalangan Hanafiyyah untuk mengelola harta rampasan dan tanah-tanah yang sebelumnya dikuasai Tatar. Tanah-tanah milik rakyat Damaskus pun mulai ditarik kembali oleh pemerintah.
Sebagian ulama memilih diam, tetapi Imam Nawawi berdiri menghadap Sultan Baibars di Majlis Keadilan. Ia mengajak Sultan melihat rakyat dengan kasih sayang. Namun, nasihatnya tak digubris. Bahkan Sultan murka dan ingin menyingkirkannya dari Damaskus. Imam Nawawi tetap tenang—ia tidak punya jabatan yang bisa dicopot dan tidak takut kehilangan apa pun.
Ia terus menemui Sultan, bahkan di tempat-tempat yang membuat penasihat kerajaan cemas akan keselamatannya. Selain itu, ia juga mengirim surat-surat yang menyuarakan penderitaan rakyat, khususnya mereka yang paling lemah: anak yatim, janda, petani miskin, dan orang-orang saleh. Ia menyentuh hati Sultan dengan bahasa kemanusiaan, bukan hanya hukum.
Keberanian dan keteguhan Imam Nawawi menggugah Sultan. Ia akhirnya membatalkan rencana penyitaan, mengembalikan tanah-tanah rakyat, dan membiarkan mereka kembali bekerja di ladang dan kebun mereka.
Kisah ini menjadi teladan bahwa ulama sejati bukan hanya pengajar ilmu, tapi juga pembela kebenaran dan keadilan.
(gwa-kb-pii-jatim).


