SURABAYA-kanalsembilan.com (8 Mei 2026)
Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Timur pada Februari 2026 turun menjadi 3,55 persen. Angka ini lebih rendah 0,06 persen poin dibanding Februari 2025 yang tercatat sebesar 3,61 persen.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik yang dirilis pada 5 Mei 2026, jumlah angkatan kerja di Jawa Timur mencapai 25,14 juta orang atau bertambah sekitar 386,19 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 24,25 juta orang telah bekerja, sementara 892,64 ribu orang masih menganggur.
Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Timur, Nurul Andriana, mengatakan peningkatan jumlah angkatan kerja turut mendorong naiknya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menjadi 74,78 persen. Angka itu meningkat 0,53 persen poin dibanding Februari 2025, menandakan semakin banyak penduduk usia kerja yang aktif dalam kegiatan ekonomi.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Jawa Timur dengan kontribusi 31,76 persen atau sekitar 7,70 juta pekerja. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 18,62 persen, serta industri pengolahan sebesar 14,38 persen.
“Meski tingkat pengangguran secara umum menurun, lulusan universitas justru menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi,” Jelasnya.
TPT lulusan universitas tercatat mencapai 6,04 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding lulusan SMA sebesar 5,75 persen dan lulusan SMK sebesar 5,73 persen.
Di sisi lain, mayoritas pekerja di Jawa Timur masih berada di sektor informal. Persentasenya mencapai 64,44 persen dari total penduduk bekerja, sedangkan pekerja formal hanya sebesar 35,56 persen. Jumlah pekerja formal bahkan turun 0,53 persen poin dibanding tahun sebelumnya.
BPS juga mencatat pekerja paruh waktu meningkat menjadi 30,52 persen, sementara tingkat setengah pengangguran turun menjadi 6,67 persen. Kondisi ini menunjukkan masih banyak pekerja yang belum memperoleh jam kerja optimal meski telah terserap di pasar kerja.
Berdasarkan wilayah, tingkat pengangguran di perkotaan tercatat lebih tinggi dibandingkan perdesaan. TPT perkotaan mencapai 4,09 persen, sedangkan perdesaan sebesar 2,68 persen. Sementara berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki berada di angka 3,78 persen dan perempuan 3,24 persen.
BPS menilai perubahan struktur ekonomi, termasuk pertumbuhan sektor digital dan jasa, turut memengaruhi pola ketenagakerjaan di Jawa Timur. Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi tantangan penting agar tenaga kerja mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri yang terus berkembang. (za).


