Oleh: Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Pengurus KPEU MUI Pusat | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
Sidoarjo, 19 Juni 2025
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sahabat yang dirahmati Allah,
Ada satu hal yang konsisten dalam dunia yang terus berubah: ocehan lama yang terus diulang oleh Benjamin Netanyahu.
📌 Tahun 1992, di depan parlemen Israel, ia berkata: “Dalam 3-5 tahun Iran akan punya bom nuklir.”
📌 2002, ia desak Amerika Serikat untuk menginvasi Irak, karena Saddam Hussein katanya tengah berpacu dengan Iran untuk membuat senjata pemusnah massal.
🔻 Hasilnya? Invasi berdarah ke Irak, jutaan jiwa melayang, dan belakangan terbukti: tak pernah ada bom nuklir di sana.
📌 2009, Netanyahu kembali mengklaim: “Iran tinggal 1-2 tahun lagi akan bikin bom nuklir.”
📌 2012, di Sidang Umum PBB, dia bahkan bawa poster kartun bom dan bilang: “Paling lambat musim panas, Iran akan menyelesaikan bom nuklirnya.”
Dan kini, lebih dari 30 tahun telah berlalu — Iran belum membuat bom nuklir. Tapi Netanyahu masih berkata hal yang sama. Retorika murahan dengan dampak mematikan.
Lebih dari itu, di Sidang Umum PBB, 22 September 2023, ia membentangkan peta baru Timur Tengah tanpa Palestina. Sebuah sinyal terang benderang: pembersihan total terhadap eksistensi Palestina adalah proyek akhirnya.
💥 Tapi ironisnya, dunia seperti tak bergerak. Padahal:
🔻 Israel punya senjata nuklir,
🔻 tak pernah menandatangani NPT (Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons),
🔻 bahkan menolak inspeksi internasional.
Sementara Iran, justru anggota NPT dan masih di bawah pengawasan IAEA. Tapi tetap dituduh dan ditekan.
🌍 Dunia Terbalik: Siapa Menyerang, Siapa Membela Diri?
Perang informasi dan propaganda hari ini telah mencapai titik telanjang.
📢 G7 dengan lantang berkata: _“Israel berhak membela diri.”
Tapi tak pernah mau berkata: “Palestina juga berhak hidup.”_
🟠 Inggris hanya ‘menyesalkan’.
🟠 Prancis terus bersembunyi di balik frasa “self-defense”.
🟠 Jerman? Lebih parah. Kanselirnya bilang: “Israel sedang mengerjakan pekerjaan kotor untuk kami.”
→ Sebuah pernyataan yang secara tidak langsung mengiyakan genosida.
Apa yang terjadi? Holocaust syndrome membuat sebagian elite politik Eropa tak berani bersikap adil, terperangkap rasa bersalah masa lalu, namun membiarkan Holocaust versi baru terjadi dengan korban yang berbeda — rakyat Palestina.
🧠 Tapi Generasi Baru Sudah Melek
Yang mengejutkan dan penuh harapan adalah bangkitnya kesadaran baru — generasi milenial dan digital di dunia Barat sendiri mulai melihat kenyataan.
📱 Di media sosial, jutaan suara menyerukan: “Not in Our Name.”
Banyak Rabbi dan komunitas Yahudi sendiri yang menentang:
“Zionisme bukan Yudaisme. Jangan gunakan nama kami untuk membenarkan kejahatan.”
🎯 Iran: Target Utama dalam Proyek Timur Tengah Tanpa Palestina
Serangan Israel ke Iran bukan soal nuklir semata. Tapi proyek besar:
🧨 Regime change
🧨 Kehancuran total Iran
Kenapa? Karena Iran adalah satu-satunya negara yang paling konsisten memberi dukungan riil kepada perjuangan Palestina.
Jika Iran tumbang, proyek “Timur Tengah tanpa Palestina” akan lebih mudah dijalankan.
⚠️ Tapi Dunia Tak Semudah Itu Diprediksi
Israel memang ingin mendorong masyarakat Iran yang kritis kepada pemerintahnya untuk memberontak. Tapi bisa jadi malah sebaliknya:
🔥 Rakyat Iran justru bersatu melawan musuh eksternal.
🔥 Sebagian rakyat Israel sendiri muak dan hengkang keluar negeri, melihat bagaimana negara mereka melampaui batas kemanusiaan.
🔥 Kebencian global terhadap Israel — termasuk dari negara-negara Global South — semakin membuncah.
Sebuah blowback yang barangkali tak diperhitungkan Netanyahu dan para pendukungnya.
🔚 Penutup: Dunia Butuh Keberanian Moral, Bukan Politik Kepentingan
Kita menyaksikan sejarah di depan mata:
🛑 Standar ganda Barat telah ambruk secara moral.
🛑 Narasi “self-defense” tak lagi bisa menyembunyikan penjajahan dan genosida.
🛑 Dan dunia yang selama ini diam, mulai berbicara keras.
Semoga ini menjadi awal dari kebangkitan nurani global — dan akhir dari dominasi narasi palsu yang telah membutakan mata dunia selama puluhan tahun.
“Bukan siapa yang paling kuat yang akan menang, tapi siapa yang paling benar yang akan terus bertahan.”


