✍️ Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
📍Sidoarjo, 05 Juli 2025
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sahabat pembaca yang budiman dan berpikir jauh ke depan,
Pernahkah kita bertanya dengan jujur: Mengapa Indonesia yang kaya sumber daya tak kunjung menjadi negara maju? Sudah lebih dari 30 tahun kita terjebak di kelas menengah (middle income trap), ekonomi hanya tumbuh di kisaran 5%, dan upaya industrialisasi selalu terganjal pada satu masalah pokok: energi yang tidak andal, mahal, dan tidak cukup.
🔌 Tanpa energi, tak ada industri. Tanpa industri, tak ada lompatan ekonomi.
Padahal, data menunjukkan kapasitas listrik kita hanya sekitar 1.200 kWh per kapita per tahun—sangat jauh tertinggal dari Korea Selatan (10.000 kWh) atau Malaysia (4.600 kWh). Transisi ke energi baru terbarukan (EBT) seperti surya dan angin memang penting, tapi mereka bersifat intermiten dan belum bisa menopang kebutuhan industri besar dan 24 jam.
Lalu, apa jawabannya?
Jawabannya: PLTN – Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir.
💡 PLTN bukan hal baru. Korea Selatan membangunnya sejak 1978 dan kini 30% listriknya berasal dari nuklir. Tiongkok punya 55 reaktor aktif, dan terus bertambah. Prancis? 70% kebutuhan listriknya ditopang oleh PLTN—stabil, bersih, murah. Tak satu pun dari mereka bisa maju tanpa PLTN.
Sebaliknya, kita—Indonesia—terus tersandera pada energi fosil yang beremisi tinggi dan harga global yang fluktuatif. Padahal kita punya cadangan thorium besar di Bangka Belitung, punya sejarah riset nuklir sejak 1960-an, dan punya kawasan industri serta ibu kota baru yang membutuhkan pasokan listrik bersih dan stabil.
Namun, mengapa PLTN kita belum berdiri?
Jawabannya ada pada stigma, mitos, dan ketakutan publik yang diwariskan dari Chernobyl dan Fukushima. Padahal, teknologi nuklir kini telah sangat aman. Negara-negara seperti Finlandia, UEA, dan bahkan Bangladesh berhasil membangun PLTN dengan edukasi publik yang transparan dan berbasis ilmu.
Maka, jika kita ingin keluar dari ketertinggalan, waktunya bukan nanti. Tapi sekarang.
Diperlukan keberanian untuk:
✅ Mengubah regulasi dan mengesahkan UU Energi Nuklir Nasional,
✅ Membangun Small Modular Reactor (SMR) di kawasan industri prioritas,
✅ Menyusun peta jalan nuklir nasional dengan target 2030 reaktor pertama beroperasi,
✅ Menyiapkan SDM, kemitraan global, dan diplomasi teknologi,
✅ Melibatkan publik dalam literasi energi dan transformasi ekosistem riset.
⚠️ Tanpa ini semua, kita akan terus menjadi bangsa konsumtif, dengan listrik mahal, industri lemah, dan ketergantungan tinggi pada energi impor. Namun jika kita memulainya hari ini, PLTN akan menjadi jalan keluar dari middle income trap, sekaligus pintu masuk menuju peradaban energi baru Indonesia.
🌱 PLTN bukan hanya tentang listrik, tapi tentang martabat. Ia bukan sekadar infrastruktur, tapi fondasi sejarah. Negara yang membangun PLTN hari ini, adalah negara yang akan memimpin besok.
Sahabat semua, mari kita buka mata, buka hati, dan buka ruang dialog untuk melihat masa depan dengan jernih. Indonesia tak akan maju hanya dengan retorika. Kita butuh keberanian mengambil keputusan strategis dan menjadikannya aksi nyata.
📖 Bacalah artikel lengkapnya dari Bab 1 hingga Bab 11 untuk memahami secara menyeluruh:
🔗 https://drive.google.com/file/d1mdX7qvaSSQ41YELxYztMm_pmzOxM4knK/view?usp=drivesdk
🌍 Energi masa depan bukan sekadar kebutuhan teknis. Ia adalah pilihan peradaban.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


