Google search engine
HomePendidikanSERIAL: MENGGUGAT AKAR MASALAH PENDIDIKAN KITA: Kurikulum Tanpa Arah, Murid Tanpa...

SERIAL: MENGGUGAT AKAR MASALAH PENDIDIKAN KITA: Kurikulum Tanpa Arah, Murid Tanpa Akar

SERIAL: MENGGUGAT AKAR MASALAH PENDIDIKAN KITA
🔹EPISODE 2

✍️ Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
Sidoarjo, 23 Juli 2025

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

🌱 Sahabat budiman yang dirahmati Allah,

Di negeri ini, pergantian menteri pendidikan hampir selalu diiringi oleh pergantian kurikulum. Namun sangat jarang kita melihat arah yang benar-benar jelas, tujuan yang konsisten, dan landasan nilai yang kokoh dalam setiap perubahan itu.

Kurikulum datang silih berganti, dari 1994, 2004, 2006, 2013, hingga Kurikulum Merdeka. Semua berganti cepat—namun tidak pernah sungguh-sungguh disusun untuk jangka panjang. Semua seolah menjadi jejak kebijakan politis, bukan hasil konsensus pendidikan bangsa.
📌 Kurikulum pun berubah menjadi dokumen administratif semata, bukan peta jalan pendidikan.

🔎 Apa yang sesungguhnya terjadi?
1. Tidak ada visi jangka panjang. Kita hanya mengikuti tren global, tekanan donor asing, dan kejar tayang proyek kementerian. Padahal negara-negara maju seperti Finlandia, Jepang, atau Korea Selatan merancang kurikulumnya dalam kerangka 20–30 tahun dengan evaluasi bertahap dan ilmiah.
2. Kurikulum dijadikan alat politik, bukan alat pedagogik. Guru, murid, dan sekolah tidak pernah benar-benar dilibatkan dalam perumusan, hanya menjadi pelaksana. Kurikulum tidak tumbuh dari kebutuhan nyata di ruang kelas, melainkan dari dokumen teknokratik pusat yang sering tidak menyentuh akar persoalan.

🎒 Dampak terhadap murid sangat mengkhawatirkan.

Alih-alih memanusiakan manusia, kurikulum justru menjadikan anak-anak sebagai objek uji coba.
📊 Menurut Litbang Kompas (2023):
✅ 72% guru menyatakan murid merasa cemas dan tertekan oleh kebijakan kurikulum.
✅ 84% orang tua tidak memahami arah asesmen dan proyek sekolah anak-anak mereka.

Anak-anak kita dijejali proyek, format penilaian asing, dan istilah yang tidak membumi. Sementara itu, akar budaya dan nilai lokal terkikis.
📍 Bahasa daerah dianggap tak penting.
📍 Kearifan lokal tergantikan jargon global.
📍 Pelajaran muatan lokal ditiadakan.

Akibatnya, anak-anak tumbuh pintar secara teknis, namun asing terhadap jati dirinya sendiri.

📣 Lalu muncullah slogan baru: “Merdeka Belajar”

Sebuah konsep yang sangat baik dalam teorinya. Tapi dalam praktik? Banyak guru justru bingung. Mereka diberi kebebasan, tapi tidak diberi arahan. Disuruh berinovasi, tapi tanpa sumber daya.
Merdeka Belajar pun menjadi kemerdekaan semu—bagi sekolah elite yang kaya, bukan bagi ribuan sekolah desa dan madrasah kecil.

Bagi sekolah di pinggiran, yang tidak punya laboratorium, jaringan internet stabil, atau guru dengan pelatihan mutakhir, kurikulum baru justru makin menjauhkan mereka dari keadilan pendidikan.

📉 Dan semua ini menimbulkan luka struktural dan psikologis:
• Murid jadi generasi bingung.
Cerdas di kertas, tapi gelisah di dunia nyata.
Mahir proyek, tapi miskin karakter.
Tahu format presentasi, tapi tak kenal makna hidup.
• Guru kehilangan makna.
Mereka kini hanya menjadi operator kebijakan:
✅ Menyusun asesmen.
✅ Melapor ke sistem.
✅ Mengisi form digital.
Tanpa visi kurikulum yang kokoh, guru tidak lagi menjadi pendidik, hanya pelaksana.

📌 Maka tibalah saatnya untuk berhenti sejenak. Merenung. Dan berani berkata:

❌ Cukup sudah kurikulum tambal sulam.
❌ Cukup sudah perubahan yang tanpa arah.
❌ Cukup sudah menjadikan pendidikan proyek citra menteri.

🌱 Apa yang perlu kita lakukan?

Kita butuh grand design kurikulum nasional jangka panjang (20–25 tahun) yang:

✅ Berakar pada Pancasila dan budaya Nusantara.
✅ Disusun bersama guru, ulama, akademisi, tokoh adat, dan komunitas pendidikan.
✅ Memiliki roadmap lintas pemerintahan, bukan berubah tiap menteri berganti.
✅ Menyelaraskan kompetensi dengan karakter, nilai, dan akhlak.

📊 Evaluasi kurikulum pun harus berbasis dampak riil terhadap karakter murid, bukan sekadar survei kepuasan atau presentasi kementerian. Pendidikan harus kembali menyambung manusia dengan dirinya, lingkungannya, dan Tuhannya.

📣 Pendidikan bukan sekadar pelatihan kerja. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.

Jika fondasi kurikulum tidak dibenahi hari ini, maka setiap kebijakan baru hanya akan melahirkan kebingungan baru.

⏳ Saatnya menyusun ulang fondasi pendidikan bangsa ini. Bukan dari PowerPoint, tapi dari nurani.
Bukan dari ruang rapat elite, tapi dari suara guru, jeritan murid, dan napas para orang tua.

📎 Baca dan unduh artikel lengkap serial Bab I–VII di sini:
🔗 https://mangestiwrites.wordpress.com/2025/07/23/serial-menggugat-akar-masalah-pendidikan-kita-dari-krisis-kebijakan-hingga-generasi-yang-hilang/

🕊️ Mari kita sebarkan kesadaran ini. Pendidikan adalah urusan seluruh bangsa. Bukan hanya kementerian.

📌 Kita belum terlambat. Tapi tak ada waktu lagi untuk terus menunda.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments