Google search engine

MENARA GADING PERGURUAN TINGGI
Antara Mercusuar Ilmu dan Mercusuar Uang

Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
Sidoarjo, 26 September 2025
šŸ“¢ Sahabat yang dirahmati Allah Subhānahu wa Taā€˜Älā,

Assalāmuā€˜alaikum warahmatullāhi wabarakātuh 🌿

Izinkan saya berbagi renungan—tajam, santun, sekaligus memantik harapan. Pertanyaan besar selalu kembali ke sini: apakah kampus kita hari ini sungguh menjadi ā€œmercusuar ilmuā€ yang menerangi republik, atau sudah berubah menjadi ā€œmenara gadingā€ yang berkilau namun berjarak dari rakyat?

Data terbaru menunjukkan, hanya sekitar tiga dari sepuluh anak muda Indonesia yang bisa melanjutkan kuliah. Sementara itu, gedung-gedung kampus makin menjulang megah, brosur promosi tampil layaknya iklan gaya hidup global, dan biaya kuliah kian mencekik. Kampus tampak megah di luar, namun pintunya semakin sempit untuk rakyat kecil.

Kenaikan UKT yang tak terkendali, pungutan tambahan, hingga layanan kampus yang diperlakukan sebagai produk komersial memantik gelombang protes di berbagai daerah. Di sisi lain, para dosen penjaga ilmu masih banyak yang hidup dalam bayang-bayang kontrak, honor kecil, dan beban administrasi yang menyita waktu riset.

Padahal, negara telah menggelontorkan ratusan triliun rupiah tiap tahun untuk pendidikan. Tahun 2025 anggaran mencapai Rp724,3 triliun, bahkan direncanakan naik lagi. Tetapi hasilnya masih jauh dari harapan: angka partisipasi kuliah rendah, skor literasi internasional tertinggal, pengangguran sarjana masih sekitar lima persen, dan riset Indonesia hanya menyentuh 0,1–0,3% PDB. Dana besar ada, tetapi hasil yang lahir masih minimal.

Inilah yang membuat esensi perguruan tinggi perlahan memudar. Ilmu tersubordinasi oleh kepentingan bisnis, riset tunduk pada agenda pasar, sementara akses untuk rakyat kecil semakin berat. Ketika integritas akademik pun digerogoti dari kasus plagiarisme hingga publikasi predator kepercayaan masyarakat terhadap kampus ikut terkikis.

Namun, semua ini bukan akhir. Justru dari sinilah lahir peluang untuk memperbaiki arah. Kita perlu:
1). Kurikulum yang melahirkan kompetensi dan karakter kebangsaan, bukan sekadar gelar.
2). Pendanaan yang adil dan transparan dengan UKT progresif, beasiswa tepat sasaran, hingga uji coba skema pinjaman berbasis penghasilan.
3). Perlindungan dosen dengan standar honor layak, tunjangan kinerja yang adil, dan ruang untuk meneliti tanpa tenggelam dalam formulir.
4). Integrasi kampus dengan industri dan komunitas, agar lulusan siap kerja sekaligus siap mengabdi.
5). Akreditasi berbasis mutu dan dampak, bukan sekadar angka atau ranking semu.

Pendidikan tinggi bukanlah panggung bisnis, melainkan amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kampus harus kembali menjadi mercusuar ilmu cahayanya jernih, jangkauannya luas, dan arahnya jelas.

🌟 Mari kita bersama-sama menjaga agar cahaya itu tidak hanya menyilaukan, tapi benar-benar menerangi rakyat dan memberi arah bagi masa depan republik.

šŸ“– Artikel lengkap bisa dibaca di sini šŸ‘‰ FaceBook: https://www.facebook.com/share/p/1EKX2TiFKy/?mibextid=wwXIfr

Wallāhu aā€˜lam. Semoga renungan ini menumbuhkan kesadaran kolektif.

Wassalāmuā€˜alaikum warahmatullāhi wabarakātuh ✨

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments