Google search engine
HomePolitikAWAN GELAP DUNIA KEDOKTERAN Otoritarianisme Teknokratik dan Hancurnya Profesi Medis

AWAN GELAP DUNIA KEDOKTERAN Otoritarianisme Teknokratik dan Hancurnya Profesi Medis

Oleh: Mangesti Waluyo Sedjati
Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah | Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Pengurus KPEU MUI Pusat
Sidoarajo, 12 Mei 2025

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saudara-saudaraku sebangsa, seiman dan seperjuangan…

Kita tengah menyaksikan satu babak paling mengkhawatirkan dalam sejarah dunia kesehatan Indonesia.

Di saat para tenaga medis berjuang menyelamatkan nyawa,
di saat para dosen dan akademisi medis membina generasi profesional dengan peluh dan dedikasi,
justru lahir sebuah sistem baru—yang diam-diam menyingkirkan suara ilmiah, melemahkan organisasi profesi, dan mempreteli etika profesi dari akarnya.

Transformasi Sistem Kesehatan Nasional—yang semula menjanjikan pemerataan layanan, ternyata menjelma menjadi proyek politik yang memusatkan kekuasaan di tangan satu aktor, membungkam kritik, dan menata ulang sistem medis dengan pendekatan manajerial korporatis yang asing dari ruh kemanusiaan.

Organisasi profesi—seperti IDI, PPNI, IBI—tak lagi punya tempat dalam pengambilan keputusan.
Kolegium dijadikan formalitas teknis.
Dokter spesialis diposisikan sebagai “tenaga jasa”, bukan lagi pemilik otonomi etik dan ilmiah.
Dan rumah sakit, lambat laun, berubah menjadi pabrik perawatan berbasis target, bukan tempat pemulihan dan pengabdian.

Apa yang terjadi saat suara dokter dikriminalisasi?
Apa yang terjadi saat akademisi yang kritis diberhentikan dari rumah sakit rujukan negara?
Apa yang akan terjadi ketika hubungan dokter dan pasien ditengahi oleh aplikasi, angka, dan alur algoritmik—bukan lagi oleh empati dan nurani?

Inilah “awan gelap dunia kedokteran” yang sedang membayang.

Dan bila dibiarkan, kita akan kehilangan lebih dari sekadar profesi.
Kita kehilangan kepercayaan, kehilangan martabat, kehilangan kemanusiaan.

Dalam artikel panjang ini, kami mengurai secara mendalam:
• Bagaimana kekuasaan merebut ruang profesi dan pendidikan medis,
• Bagaimana kritik ilmiah disulap menjadi tuduhan disinformasi,
• Bagaimana sistem kesehatan bergerak menuju industri data dan bukan lagi sistem pengabdian,
• Dan bagaimana tauhid dan nilai-nilai Islam harus hadir sebagai dasar baru dalam menyusun sistem pendidikan kesehatan nasional.

Mari kita lawan dengan ilmu.
Mari kita bangun peradaban kesehatan dengan nilai, bukan angka.
Dan mari kita jaga profesi mulia ini dari kekuasaan yang membajak.

Silakan baca artikel lengkapnya di sini:

AWAN GELAP DUNIA KEDOKTERAN: OTORITARIANISME TEKNOKRATIK DAN HANCURNYA PROFESI MEDIS

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا، فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim, No. 49)

Jika dirasa bermanfaat, mohon bantu sebar ke grup dan jejaring strategis.
Saatnya bangsa ini bangun dan mengambil kendali

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments