RELAKSASI TKDN DAN PERANG TARIF GLOBAL
✍️ Oleh: Mangesti Waluyo Sedjati
Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah | Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Pengurus KPEU MUI Pusat
Sidoarjo, 10 Mei 2025
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sahabat bangsa dan pemikir kebijakan yang budiman,
Kita sedang hidup dalam babak baru sejarah ekonomi dunia.
Negara-negara adidaya yang dulu menjadi motor perdagangan bebas, kini justru mengangkat kembali proteksionisme sebagai strategi bertahan. Sejak Donald Trump mengguncang panggung global dengan doktrin “America First”, dunia menyaksikan kebangkitan perang tarif, pembalikan arah globalisasi, dan perlombaan untuk membentengi industri dalam negeri dari dominasi asing.
Indonesia tidak tinggal diam.
Kita punya TKDN — Tingkat Komponen Dalam Negeri — sebagai alat strategis untuk mendorong tumbuhnya industri lokal, membuka lapangan kerja, dan membangun kemandirian ekonomi.
Namun kini, TKDN itu sendiri sedang dilonggarkan.
Sektor kendaraan listrik, energi terbarukan, dan infrastruktur digital — yang seharusnya menjadi pilar masa depan — justru diberikan relaksasi TKDN. Pemerintah berdalih soal “daya saing”, “ketidaksiapan industri lokal”, dan “tekanan investasi asing”.
Apakah ini pilihan pragmatis yang tepat?
Atau justru langkah mundur yang menggadaikan mimpi besar kedaulatan ekonomi bangsa?
Tulisan ini bukan sekadar analisis. Ia adalah refleksi tajam dan strategis.
Disusun dengan data terkini, dibingkai oleh konteks geopolitik global, dan diarahkan untuk mengajak pembaca berpikir lebih jauh:
Apakah Indonesia sedang menavigasi badai, atau justru hanyut dalam arus yang tidak kita kendalikan?
Baca selengkapnya dan pahami akar serta arah kebijakan ini:
[Klik di sini untuk membaca artikel lengkapnya]
Jika Anda peduli pada masa depan industri nasional, jika Anda percaya bahwa kemandirian ekonomi bukan utopia, maka tulisan ini layak untuk Anda renungkan.
Bangsa yang besar bukan bangsa yang menyerah pada pasar bebas.
Tapi bangsa yang tahu kapan harus terbuka — dan kapan harus berdiri tegak.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


